Saturday, November 26, 2011

#Flashback: Duapuluhenam November Duaribusepuluh :'(

"Where's location of a HEART?"
16 November 2010
Guru itu sedang menerangkan materi pelajaran. Entah apa yang diterangkannya. Yang aku tahu, guru itu sedang mengajarkan geografi. Sekelilingku terlihat samar-samar. Aku merasa tidak kuat lagi. "Ayo aku antar ke UKS" ujar seorang temanku. Aku hanya menurut saja. Badanku sudah lemas tak berdaya saat itu.

Aku pun masuk ke ruang serba putih itu. Guru BK langsung menghampiri kami dan menanyaiku. "Kamu kenapa mbak? Mukamu pucat sekali. Kamu puasa sunah arafah hari ini?" aku hanya menggeleng. "Yasudah tak apa, tak usah puasa dulu. Sekarang kamu berbaring saja di sini. Tak usah ikut pelajaran" saran beliau. Aku pun dituntun temanku menuju ke tempat tidur.

Temanku kembali ke kelas. Tinggal aku sendiri. Beberapa menit kemudian, seseorang mengetuk pintu UKS "Masuk!" kataku. Siapa itu? Ternyata..... dia! 

"Ngapain kamu kesini? Tau darimana aku sakit?" tanyaku lemah.
"Tidak usah kau tanyakan. Aku hanya ingin menjengukmu.."
Tanpa sadar, tanganku meraih tangannya. Begitu pula dia, berusaha tuk meraih tanganku. Apa yang terjadi? Raganya terbang! Ia menghilang entah ke mana. Air mataku mengalir deras melihatnya. KAMU KEMANA?? :'(

Ketukan pintu yang kedua membuat aku keluar dari mimpi burukku itu. Yang mengetuk pintu adalah kakak kelas yang hendak mengambil minyak kayu putih. 
Dan saat itu aku masih bertanya-tanya, KAMU DIMANA...

10 hari kemudian..


Tepat pukul 13.00, jam BTAQ. Hari itu guru BTAQ tidak masuk dengan alasan sakit. Kelas kami digabung dengan kelas BTAQ yang lain supaya kelas kami tidak kosong. Aku terkejut ketika aku melihat guru BTAQ pengganti mengajar dengan membawa barang-barang yang biasa dipakai guru BTAQ ku dan beliau berkata kepadaku :


"Saya seperti ini biar kamu nggak kehilangan.."

Aku tersentak! Apa maksud semua ini? Kupikir guru BTAQ pengganti hanya sekedar bergurau. Namun gurauan itu secara tak sengaja membekas di hatiku yang paling dalam, hingga kini :'(


Setahun berlalu, namun bekas itu masih ada. Aku takut kehilangan itu benar-benar terjadi. Aku berusaha melindungi kamu. Pada tahu nggak? Yaudah nggak apa apa, sekarang aku kasih tahu aja. Kini aku hanya bisa berdoa, ya Allah lindungi dia, lindungilah... :')




#Kalian pengin tau maksud dari qoute di atas? SIlakan log in ke facebook dan buka note dibawah ini :


1. Qisahi 2 (Bagian 4) #26 November 2010#
2. Dream

Atau buka posting ini : Dream (again, again, and again)

Friday, November 25, 2011

Sebuah Perubahan



“Rheaaaa! Bangun! Udah siang! Kamu sekolah nggak?” teriak Ibuku.
“Iya, Bu. Aku bangun..”  jawabku.
 Aku melihat jam dinding di kamarku. Setengah tujuh! Aku pun bergegas mandi. Setelah itu aku sarapan dan berangkat ke sekolahku tercinta, SMP Harapan Bangsa.
Oh, iya, kenalin, namaku Rhea Putri Maylisa. Panggil aja Rhea. Aku adalah siswi kelas IX A SMP Harapan Bangsa. Aku adalah anak yang gampang merasakan galau. Liat kecoak aja langsung galau. Tapi meskipun aku anak penggalau, aku termasuk orang yang murah senyum. Aku anak ketiga dari tiga bersaudara alias anak bungsu. Meski begitu, aku bukan anak manja karena aku emang nggak suka dimanja-manjain.
Di sekolah juga nggak terlalu pinter. Nggak ada prestasi yang menonjol, biasa-biasa aja deh. Mapel yang jadi favoritku adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pokoknya, yang semacem bahasa gitu lah, dan mapel yang paling aku benci adalah sejarah, bikin ngantuk! Hehe. Karena pada dasarnya aku nggak suka kebosanan.
Oh, iya, kalau pengin lebih mengenal aku lebih jauh, hubungi warnet terdekat (apa hubungannya coba?) !
***
Teeeet...
Bel tanda istirahat selesai telah berbunyi. Karena jam ini adalah waktunya mapel Sejarah yang paling aku dan Vinca benci, aku dan Vinca santai saja, nggak segera masuk kelas. Aku malah makan-makan di luar. Saking santainya, aku nggak perhatiin apa Pak Amir, guru sejarah udah masuk kelas atau belum. Kami baru sadar ketika teras kelas udah sepi. Jangan-jangan Pak Amir udah masuk lagi! Kami pun segera menuju ke kelas. Ternyata yang kami takutkan terjadi, Pak Amir udah masuk kelas. Pak Amir pun langsung Indonesia Raya.

“Rhea! Vinca! Sudah berapa kali kalian terlambat masuk ke kelas saya!? Sekarang, kalian tidak boleh mengikuti pelajaran saya!”
“Tapi, Pak...”
“Nggak ada tapi-tapian! Kalian udah sering terlambat jadi lebih baik kalian tak usah ikut pelajaran saya!” bentak Pak Amir sambil menutup pintu kelas dengan keras. Terpaksalah kami di luar kelas.
Itulah sebabnya aku paling benci sama yang namanya mapel sejarah. Udah bosenin, bikin ngantuk, gurunya killer pula! Makanya kami sering banget terlambat di mapel yang satu ini.
Nggak cuma terlambat di mapelnya beliau aja. Aku ini tergolong murid telatan alias suka terlambat masuk sekolah dan lagi-lagi yang menghukum adalah Pak Amir. Nggak tanggung-tanggung, Pak Amir sampe bosen ngladenin aku melulu. Daftar keterlambatanku selama satu bulan aja udah ngalahin struk belanjaan. Sering banget telat deh. Yah, namanya juga murid teladan, eh, telatan maksudnya. Hihi
Kembali ke Pak Amir. Pak Amir adalah guru paling nyebelin sedunia. Untuk sekedar ngasih salam ke Pak Amir rasanya aja udah males. Liat wajahnya? Apalagi! Kumisnya bak ujung tanduk itu biikin serem yang ngeliatnya. Pokoknya, kalau ketemu guru yang satu itu bawaannya jengkel deh! Dendam rupanya sudah tertanam dalam hati ini. Hahaha.
***
Akhir-akhir ini, aku ngerasa aneh banget. Terutama pas pelajaran sejarah. Aku ngerasa jadi lebih giat ngikutin pelajaran yang bikin bosen ini. Intinya, aku sekarang jadi suka pelajaran sejarah, dan nggak tahu kenapa aku jadi suka sama cara ngajarnya Pak Amir! Entah karena aku yang berubah atau Pak Amir, aku nggak tahu. Yang jelas sejarah jadi mapel favoritku sekarang. Kayaknya sekarang aku dah bisa lihat sisi baiknya Pak Amir yang ternyata nggak seserem wajahnya. Kalau di luar jam ngajar, Pak Amir ternyata nggak segalak kalau lagi ngajar di kelas. Enak banget kalau diajak ngobrol, asyik deh! Ternyata bener kata pepatah, jangan liat buku dari sampulnya. Artinya, jangan liat orang dari luarnya aja! Siapa tahu dalemnya baik.

Terus Pak Amir itu juga bijaksana. Kupikir, sifat bijaksana hanya bisa kutemui dalam dongeng karena seumur hidupku, aku tak pernah melihat orang yang benar-benar mempunyai sifat seperti ituSifat atau watak bijaksana biasanya banyak digunakan untuk menggambarkan tokoh dongeng seperti raja atau pemimpin (maklum nggak pernah liat orang bijaksana). Aku sangat menggemari orang seperti itu nggak tahu kenapa.
Suatu hari, Pak Amir izin nggak ngajar. Katanya sih sakit. Nggak tahu kenapa kok jadi ngerasa kehilangan gini. Pokoknya, sekarang rasanya hampa tanpa sejarah. Aku pun berdoa dalam hati mudah-mudahan Pak Amir cepet sembuh. Amin.
***
Langit seakan gambarkan suasana hati murid-murid di sekolahku. Kami telah kehilangan salah satu guru terbaik kami. Kami tak sanggup untuk melepasnya sekarang. Apalagi ini tahun terakhir di sekolahku
"Maafkan saya, saya sudah tidak bisa mengajar lagi..." kata beliau sambil memegangi bagian perut bawah sebelah kanan. Tunggu.. perut bagian bawah sebelah kanan? Itu kan hati..? Jadi itukah sebabnya beliau tak bisa mengajar lagi disini?
"Jangan pergi.. tetaplah mengajar disini.." kata kami sambil menangis sesenggukan.   
"Sekali lagi saya minta maaf, saya benar-benar harus pergi. Saya tidak bisa mengajar lagi.."
“Kamu kenapa, Rhea? Bangun tidur kok nangis?” tanya ibuku. Aku baru sadar kalau kejadian mengharuka tadi hanyalah mimpi buruk di sore. Tentu saja aku tak mampu menjawab pertanyaan ibuku. Aku terus menangis.
“Sudahlah, Sayang. Itu kan hanya mimpi buruk. Makanya, kalau mau tidur berdoa dulu!”
“Iya, baik, Bu!”
“Nah, sudah jam setengah lima. Ayo sana mandi dulu!” perintah Ibu. Aku pun segera menuju ke kamar mandi
***

Mentari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya, namun aku sudah terbangun dari mimpi indahku. Mulai hari ini, aku akan bangun lebih awal agar tidak terlambat ke sekolah. Nggak tau kenapa hari ini ceria banget. Rasanya semangatku lagi tinggu. Aku udah nggak sabar sampe di sekolah
Tiba di sekolah, aku segera menuju ke ruang guru dan mencari Pak Amir. Namun ternyata Pak Amir belum datang. Aku pun menunggunya.
Tak lama kemudian, Pak Amir pun datang aku pun langsung menyapanya sembari mencium tangannya. “Assalamualaikum, Pak!”
“Waalaikumussalam, Rhea! Wah, tumben kamu datang lebih awal. Bagus itu Rhea. Ingat, jangan hanya hari ini, tapi untuk seterusnya. Apalagi kamu sudah kelas sembilan!” ujar Pak Amir.
“Iya, Pak. Saya janji nggak akan terlambat lagi!” kataku, “Oh, iya, Pak. Boleh saya menyampaikan sesuatu pada Bapak?”
“Boleh, apa itu?”
“Begini, Pak, saya mau minta maaf sama Pak Amir. Selama ini, saya selalu bertingkah yang kurang baik. Maafkan saya, Pak. Saya janji akan lebih baik lagi!”
“Tidak apa-apa, Rhea. Bapak sudah memaafkan kamu. Yang penting kamu mau berubah!”
“Ya, baik, Pak!”
Setelah itu, aku menjadi rajin. Sekolah tidak pernah terlambat, rajin mengerjakan tugas, rajin belajar, nilai meningkat, dan yang paling penting, aku telah berubah.

Sunday, November 20, 2011

Makna Sebutir Soal

Senin itu, 14 November 2011...
Hari itu, hari pertama TO putaran kedua. Mapel pertama bahasa Indonesia. Ku akui, soal TO kedua ini lebih mudah dibanding dengan TO sebelumnya. Aku berharap semoga diberi kemudahan di TO berikutnya. #Amin 

Saat mengerjakan soal bahasa Indonesia itu, di paket A banyak soal kata-kata sederhana tapi maknanya sesuatu. Kayak nomer 35 pilihan C yang berbunyi "Angin malam sampaikan salamku kepadanya" (Eh bukan itu tau jawabannya!). Pokoknya banyak deh soal-soal di paket A yang kata-katanya sesuatu. Sampe di nomor 44 yang berbunyi :

Senin, 27 Januari 2011
Hari ini Kezia kesal sekali. Sangat kesal. Pak Agus amat marah kepadanya. Padahal PR matematika yang tidak dikerjakan hanya 2 nomor. Delapan nomor lainnya selesai dengan baik dan tak ada satupun yang salah. Tidak biasanya guru yang diidolakannya itu memarahinya dengan kasar hanya karena persoalan 2 nomor PR yang tidak diselesaikan itu. Ia tidak habis pikir mengapa Pak Agus begitu marah padanya. Ia gelisah memikirkan bagaimana agar kepercayaan Pak Agus bisa kembail padanya. Ia sedih, sangat sedih.

Nah kira-kira begitulah inti soalnya. Enggak tau deh kata-katanya bener gitu apa enggak. Eh, yang penting coba kamu liat bagian yang aku tebelin deh. Bagi orang biasa, itu cuma sebuah kata-kata. Bagi aku, kata-kata itu... walaupun aku tidak mengalaminya, tapi aku merasa mengalaminya. Tanya kenapa....

Tapi dengan membaca soal itu, aku jadi merasa bertanggungjawab untuk menjaga kepercayaan yang diberikan kepadaku, khususnya yang kita lagi bahas di sini, guru :)
Gampang-gampang susah menjaga kepercayaan seseorang. Sedikit disalahgunakan, orang itu menjadi membenci kita dan tentunya mencabut kepercayaan itu. 

Setelah membaca soal itu, aku jadi merasa tidak tenang di dalam ruang TO itu. Yang lainnya pada tidur enak-enak di kursi sedangkan aku sibuk bolak-balik kertas soal yang padahal nggak dibaca. Aku gelisah! Aku jadi berpikir tentang kata-kata tadi, yang terngiang terus di benakku. Entah pikiranku jadi melayang-layang jauh ke sana kemari. Tiba-tiba, otakku memflashback waktu aku kelas 3 SD dulu. Waktu aku masih awam banget sama bahasa Arab. Waktu aku pertama kali dapet mapel bahasa Arab. Tiba-tiba juga aku inget sama guru bahasa Arab pertamaku dulu, kosakata pertama, hingga akhirnya tiba pada hari itu. Saat pagi harinya ada ulangan bahasa Arab (jujur, agak susah -_-v), nggak kerasa saat itu aku udah banyak belajar banyak kosakata dan.... ah udah, udah! ini malah nostalgia! Udah cukup yaa buat orang geer-nya #satire time.

Mendadak perasaan itu muncul kembali, perasaan bersalah yang menjadi-jadi. Selalu kutanyakan dan tak pernah terjawab pertanyaan ini: "Salahkah aku mengagumi seseorang yang ku kagumi?"

Sampai sekarang aku tak pernah tahu kapan aku mendapat jawaban yang pasti atas pertanyaan tadi. Kalau aku turuti orang lain, pasti jawaban mereka beda-beda. 50 % menjawab SALAH 50 % lagi jawab NGGAK SALAH. Nah, galau nggak tuh! u,u

Kalau turuti kata hati sendiri, sudah pasti jawabannya NGGAK SALAH. Jadi diri sendiri memang menyenangkan, tak ada keganjalan, semuanya sesuai diri sendiri. Namun jika aku tak mendengarkan apa kata mereka, rasa bersalah itu muncul kembali. Bagaimana aku seharusnya? Apapun itu, aku tetap mengagumi seseorang yang aku kagumi. Entah sampai kapan. Tapi yang pasti, aku lebih nyaman jadi diri sendiri, tanpa harus dengarkan hinaan dan sindiran mereka. 


Ini hanya makna dari sebutir soal, yang hanya rangkaian kata-kata sederhana, namun bisa didalami, rasakan maknanya, dan petik hikmahnya :)




With Love,


Cindy Permata Putri 

Monday, November 7, 2011

Izinkan Aku Menyayangimu

Andai engkau izinkan walau sekejap memandang
Kubuktikan kepadamu aku memiliki rasa
Cinta yang kupendam tak sempat aku nyatakan
Karena kau tlah memilih menutup pintu hatimu


Izinkan aku membuktikan inilah kesungguhan rasa
Izinkan aku menyayangimu


Sayangku, dengarkanlah isi hatiku
Cintaku, dengarkanlah isi hatiku


Bila cinta tak menyatukan kita
Bila kita tak mungkin bersama
Izinkan aku tetap menyayangimu


Aku sayang padamu...

Hujan, Jangan Ambil Belahan Jiwaku! (draft of indonesian assignment)


 Tak ada seorang pun di sini. Tolong aku! Aku ingin pulang. Aku terjebak di tengah-tengah hujan yang lebat. Di mana semua orang? Guru-guru? Teman-teman? Di mana mereka? Tolong aku, aku tak ingin berlama-lama di sini! Aku takut. Tanpa sadar aku teteskan air mata.

“Jangan takut, ada aku di sini, Alika. Sudah jangan menangis!” suara itu mengejutkan aku. Dia datang sembari menghapus air mata di pipiku.

“Terima kasih, Tria! Kamu nggak pulang?” tanyaku.
“Aku juga nunggu hujan reda,” katanya.
“Kenapa kamu baru ke sini?” tanyaku lagi.
“Aku tadi masih mengurus mading kelas,”
“Sendirian?”
“Ya, begitulah. Oh, ya, kenapa tadi kamu nangis?”
“Hmm… aku takut. Aku kirain tadi nggak ada orang, hehe” kataku tersipu malu.
“Kan masih ada aku, hahaha” candanya.
“Ah kamu ini bisa aja,”

Tiba-tiba, dia menghilang, entah ke mana dia. Aku mencari-cari namun tak kudapati dirinya. Kamu di mana? Sejenak aku berpikir, kemudian aku tersadar bahwa orang itu hanyalah bayanganmu aja! Aku baru inget kalo kamu udah dipanggil Tuhan 2 minggu yang lalu.

Setiap kali hujan, aku selalu teringat saat-saat itu. Di mana kamu menghibur aku saat sedih, tenangkan hatiku ketika galau dan gundah, dan hapus air mataku tiap kali menetes. Namun kini sosok itu telah menghilang. Aku berusaha mencari tapi selama aku mencari tak pernah kutemukan sosok sepertimu. Kamu ke mana?

Aku masih ingat ketika ada seseorang memberitahuku bahwa Tria telah tiada. Katanya, dia meninggal dunia akibat kanker hati yang dideritanya sudah mencapai stadium akhir. Setelah orang itu memberitahuku aku langsung menuju rumah sakit tempat dia dirawat.

Aku menangis sejadi-jadinya. Aku menyesal tak menepati janjiku pada Tria untuk melindunginya. Aku bahkan tak pernah tahu bahwa Tria mengidap penyakit yang membuat belahan jiwaku pergi untuk selama-lamanya.

Hujan yang tadinya memberikan kenangan indah dan menjadi penenang hati kini menjadi penanda suasana duka dan hujan mewakili hatiku yang muram durja. Hujan kini juga menjadi sesuatu yang jahat bagiku. Ia mengambil belahan jiwaku. Hujan, kembalikan belahan jiwaku. Jangan ambil belahan jiwaku!

Namun aku tersadar bahwa ini semua adalah kehendak Tuhan. Tidak ada yang pernah menginginkan seseorang yang dicintainya pergi. Namun jika Tuhan menghendaki maka terjadilah…

Mungkin suatu saat nanti, akan ada seseorang yang menggantikan posisi Tria di hatiku. Aku yakin, Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah dibalik semua ini. Dan aku yakin, setelah kesusahan pasti akan ada kemudahan. Aku janji takkan menangisi Tria lagi. Aku harus kuat!

 Hari demi hari berganti, hujan yang deras kembali turun dan aku terjebak kembali. Aku berusaha menahan tangis. Aku coba lupakan semua tentang Tria. Aku harus bertahan. Aku tak boleh terus-menerus terbelenggu dalam kesedihan. Kini, aku mencoba bahagia dengan pengganti Tria. Aku tahu Tria akan senang melihat aku bersinar kembali.



Sunday, November 6, 2011

The Story of Takbiran Idul Adha 1431 H and 1432 H

Kisah takbiran idul Adha tahun lalu. Enjoy :)


Hore! akhirnya keinginanku buat ikut takbiran terwujud. Perjuangan untuk membujuk sang ortu pun tak sia-sia, abisnya, aku lagi sakit (yaa iya aku ngaku aku lagi sakit waktu itu) 

Ini bisa dibilang pengalaman pertama aku ikut takbiran. Dimulai dari aku sama adel nunggu tarphut lamaa banget! Itu sebabnya aku kemarin telat nyampe sekolah. Payah-payah...
Setelah solat isya berjamaah selesai, dilanjutin sama takbiran. Abis itu tausiyah deh!

Nah ini nih inti dari cerita satu ini, waktu itu aku mau absen sambil nelpon my father yang katanya bisa jemput aku. nah terus, pas aku mau telpon, ada ***** lewat di depan r a u n a! dan apa yang terjadi? Rauna pun menarik-narik bajunya dan sambil berkata apa gitu-_-. intinya, Rauna berusaha ngasih tau kalo aku ada disitu. Aku yang tadinya gak bisa teriak-teriak gara-gara sakit, tapi kok jadi ajaib gini yaa?? Aku bisa teriak kenceng banget! temen-temen juga pada heran!
"Paaakk, stop gausah kayak gitu!" 
Anehnya, abis teriak kayak gitu, aku langsung sembuh! ajaib tenan! Haha.

Epilog

Tahun lalu kayaknya ngebet banget pengin ikut. Tapi nggak buat tahun ini. Nyesek banget! Seharusnya idul adha yang merupakan momen penting untuk diperingati mendadak menjadi hal yang menyedihkan. Mungkin aku sedih karena shaun the sheep akan mengakhirkan episodenya hari ini. Bukan, bukan itu alasannya mengapa aku sedih. Lalu apa? Entahlah....


Saturday, November 5, 2011

Buat Orang yang Selama ini Jadi Panutanku !


Kenapa ya akhir-akhir ini aku selalu merasa kamu hilang dari kami? Aku juga bingung, bingung banget. Gak ada jalan lain selain menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, bagaimana perasaanku sekarang..

Meskipun mungkin cara ini mempermalukan diriku sendiri, tapi aku udah gakuat merasakan ini. aku jadi tertekan.
Apa semua ini gara" kejadian 26-11-10 waktu itu? (posting about this click here , or login to facebook and  open this)

Aku mohon bantu aku lepas dari perasaan dan bayang-bayang yang menjerat aku selama hampir setahun ini.

Buat orang yg kumaksud di posting ini, aku mohon dengarkan aku sejenak saja.
Aku butuh bantuan agar ku tak terbelenggu dari pikiran ini..
Aku butuh nasihat, aku butuh dukungan, aku butuh bantuan, aku butuh dukungan moral.. DARIMU
Aku harap kau mengerti..


(17 Desember 2010)

Syukran Katsiran :')

Tuesday, November 1, 2011

Menari di Antara Gerimis

Sebuah cerpen karya Radischa Ivonne. Cerpen ini aku re-blog karena isinya tentang kehilangan. Enjoy!



Padang rumput yang selalu indah, dan basah di pagi hari. Butiran embun yang menempel di rumput berpindah ke pantatku setelah aku duduk di atasnya. Di antara kabut tebal dan anganku sendiri, berkelebat peristiwa beberapa tahun lalu. Saat aku masih seorang gadis kecil dengan tinggi sekitar satu meter. Bayangan itu semakin jelas tertangkap indera penglihatku, yang sekaligus membawaku lebih jauh dari realita.
Kaki kecil itu menari, melompat, berputar dengan lincah. Tangan kecilnya pun tak henti-hentinya berusaha menangkap gerimis. Sedangkan seorang bocah laki-laki gendut yang bersamanya, hanya duduk, tertawa terpingkal-pingkal sambil sesekali berteriak memberi semangat, "Ayo tangkap, tangkap gerimisnya !".


Tommi, teman kecilku. Tapi aku lebih suka menyebutnya belahan jiwaku. Kami banyak menghabiskan waktu bersama. Terlebih saat gerimis. Tommi selalu membawaku ke tempat ini dan menemaniku bermain gerimis meskipun orangtua kami tak pernah bosan melarang keluar rumah saat hujan. Ya, alasan wajar para orangtua karena tidak menginginkan anak mereka sakit. Tapi kami tetap bocah kecil lima tahun yang hanya mengerti tentang bersenang-senang.


Tommi paling mengerti aku, setidaknya itulah anggapanku dulu. Dia bahkan rela telinganya dijewer ibuku gara-gara membawaku kabur. Satu-satunya alasan bertahan adalah karena Tommi tau kalau aku amat suka gerimis, melebihi seluruh boneka yang kumiliki di rumah.


Tidak ada satupun yang tau tentang rahasia Tuhan. Gerimis yang tadinya sangat kucintai mendadak membuatku muak dan menjadi salah satu hal yang tak lagi ingin kusentuh. Aku sadar ini rencana Tuhan. Dia mengambil sebelah jiwaku untuk kembali ke sisiNya. Membiarkanku sendiri bersama gerimis yang kini seolah menghujam kepalaku teramat keras. Bayangan Tommi selalu muncul di balik gerimis.

Empat belas tahun berlalu. Aku kembali ke tempat ini disaat langit abu-abu. Muncul keyakinan kalau sebentar lagi akan hujan. Aku sengaja menantang hatiku untuk tidak lagi terpuruk. Aku ingin menyentuh gerimis dan bayangan Tommi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun itu.

Gerimis menerpa wajahku ketika aku menengadah ke atas. Aku dapat merasakan Tommi masih duduk di sampingku sambil tersenyum. Aku pun tersenyum meskipun dengan air mata yang bercampur gerimis. Aku ikhlas demi Tommi, juga demi seseorang yang saat ini datang dan membentangkan payung di atas kepalaku.


Terima kasih Tuhan telah mengirimkan "Tommi yang lain" di kehidupanku.