Showing posts with label Galaw story. Show all posts
Showing posts with label Galaw story. Show all posts

Tuesday, December 20, 2016

My Sunshine After The Rain


Sedikit aneh memang. Biasanya setiap tanggal 20 Desember, aku selalu menuliskan apapun tentang 20 Desember enam tahun silam. Memang, di posting 20 Desember yang terakhir, aku menuliskan bahwa tulisan itu adalah part flashback yang terakhir. Jadi aku memang takkan menulis tentang enam tahun silam.

Tadi malam, saat pergantian hari dari 19 Desember ke 20 Desember, aku merasa aku ingat semua kejadian-kejadian yang aku alami. Namun emosi yang aku rasakan saat ingat ini: TIDAK ADA.

Jantungku tidak berdebar. Aku tak lagi berkeringat dingin. Aku tidak tahu, apakah aku harus senang atau sedih karena merasa seperti ini. Semalam, aku tidak bermimpi tentang seseorang di 20 Desember 2010, aku memimpikan yang lain. Aku memimpikan seseorang yang akan aku bahas di posting ini. Cerita dalam mimpi itu sama, kehilangan. Tapi bukan orang yang biasanya. Bukan.



The other night, dear, was I lay sleeping. I dreamt I held you in my arms. When I awoke, dear, I was mistaken. So, I hung my head, and I cried.


Seseorang yang ada di mimpiku tadi malam. Aku tak bisa bilang bahwa dia adalah orang "baru" yang menciptakan senyum di bibirku. Tapi dia keren. Aku menyebutnya sang hujan sehari penghapus kemarau bertahun-tahun, atau terkadang aku menyebutnya cahaya matahariku setelah hujan. Oh, ada lagi, barusan terlintas di pikiranku, pelangi yang muncul setelah hujan.

Dia benar-benar datang di waktu yang tepat, saat badai menerpaku bertahun-tahun, dia datang bagai cahaya matahari saat badai reda, membantuku untuk memunculkan pelangi dalam hatiku sendiri. Memang, dia menunjukkan bahwa senang dan sedih berasal dariku sendiri. Tetap saja, jika dia tidak ada, aku takkan jadi yang sekarang.

Aku teringat, pertemuan pertama, bahkan sebelum bertemu dengannya, entah mengapa aku sangat membencinya. Melihat wajahnya saja sudah malas. Aku tidak mengerti, seseorang yang tak pernah terbayangkan untuk mengenalnya, dia mengenalku, tahu semua tentangku datang dengan melalui proses yang sampai sekarang aku tak paham, menjadi salah satu yang aku bahas dalam percakapan sehari-hari.



Di saat aku sedang menikmati hari-hari bahagia karenanya, entah mengapa, di suatu hari, aku merasa sangat sedih karena pertemuan kita terasa sangat singkat. Aku benar-benar takut, setelah hari itu, aku takkan bertemu dengannya lagi. Jika pun bertemu, pasti takkan seperti sebelum-sebelumnya, situasinya akan berbeda. Mungkin kita tak lagi saling sapa dan tertawa bersama. 

Aku pernah menaruh harapan padanya, untuk selalu bisa bersikap baik denganku. Karena itulah, aku harus siap kecewa. Karena pengharapan sebagian besar akan mengecewakan.

Sebenarnya, aku sedikit heran. Dia tahu, aku menggelisahkan hal ini padanya. Tapi dia bilang, dia tak seperti itu, malah dia bilang aku sudah berpikiran negatif mengenai dirinya. Tak seharusnya aku seperti itu. Entah darimana rasa takut ini datang. Apakah aku telah takut kehilangan?

Untuk cahaya matahariku setelah hujan.
Untuk hujan sehariku setelah kemarau bertahun-tahun.

Unruk pelangiku setelah hujan.
Aku ucapkan beribu terima kasih, telah menjadi salah satu orang yang memberikan perubahan besar padaku. Yang telah memberikan aku penguat dalam bentuk apapun. Aku juga akan mengucapkan maaf. Maaf jika aku telah menyusahkanmu selama ini, telah menyita waktumu, belum bisa membalas budi baikmu.

Aku tak pernah berharap untuk kehilangan semuanya, Aku ingin melakukan apapun agar tak ada yang berubah. Tetap seperti ini. 

Sunday, October 5, 2014

05 Oktober 2009: Yang Kelima.

Tidak terasa ya, sudah 5 Oktober yang kelima. Lima Oktober kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Memang setiap tahun punya kisahnya sendiri. Tapi entah mengapa lima oktober kali ini benar-benar berbeda.

Kebetulan, lima oktober kali ini bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Bisa pas gini ya? Inget banget Idul Adha 4 tahun yang lalu, di mana saat itu terjadi. Di mana kau harus kupegang erat. Di mana kau tak kuizinkan untuk pergi...

Kini, entah mengapa sejak lima Oktober yang kelima ini, aku jadi sangat ingin menjagamu. Benar-benar tak kuizinkan untuk pergi. Aku lebih menghargai hadirmu. Meski kita tak berada di satu tempat seperti lima tahun yang lalu, jarak ratusan meter yang memisahkan kita. Meski tingkahmu kadang membuatku sakit. Tapi sungguh, aku benar-benar takizinkan kamu untuk pergi! 

Entah, aku kehabisan kata untuk mendeskripsikan lima Oktober kelima ini. 
Karena pagi itu duka. Sangat sedih. 
Pokoknya, kamu benar tak kuizinkan pergi!
Jangan!

Aku sudah kehilangan.
Aku pernah (merasa) kehilangan.
Aku baru saja kehilangan.
Benar-benar kehilangan

Jangan kamu, jangan. 
Tolong. Jangan. Pergi.





Selamat Lima Oktober kelima.
I'm afraid to lose you more than this post.



 With Love,


Cindy Permata Putri


Related Post:

Tuesday, November 26, 2013

#Flashback: Duapuluhenam November Duaribusepuluh (Part 2)

Hai, apa kabar kamu? 

Aku harap, kamu baik-baik saja.
Aku harap, kamu dalam keadaan sehat

3 tahun yang lalu, aku tidak mengerti apa yang terjadi. Pagi itu, aku melihatmu, nyata dan jelas. Tapi, mengapa kamu menghilang. Aku seperti tak mengerti perasaanku sendiri. Aku kehilanganmu!

Aku menangis sejadi-jadinya. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Kupanggil namamu berkali-kali, tidak ada tanda-tanda keberadaanmu. Kamu di mana?
Namun mengapa dalam hati aku masih bertanya. Kamu ke mana?

"Aku takkan hilang, aku di sini, di hatimu"

Aku tunggu kabar darimu. Aku sangat ingin bertemu denganmu. 





With Love,
Cindy Permata Putri

Friday, August 10, 2012

Antara "Kamu", "Dia", dan Kata yang Belum Sempat Terucap

Sudah sore begini, masih aja belum ada angkutan umum yang melintas. Apalagi ini puasa. Aku sudah haus sekali karena aku berdiri terlalu lama di sini. Saat sedang menunggu, iiba-tiba langit mendung kemudian disusul angin kencang dan hujan deras, namun anehnya petir tidak menyambar-nyambar. Aku pun segera mencari tempat yang teduh. 

Tiba-tiba, seseorang yang sepertinya aku pernah kenal menghampiriku. Ya, tidak salah lagi, itu kamu. Sahabat karib dia, dia yang kusayang (?) Kamu menawarkan untuk ikut pulang denganmu. 

"Ayo ikut saya, nanti kamu kehujanan kalau di situ."
"Nggak usah. Kamu duluan aja. Saya nggak papa kok"
"Ayolah jangan begitu, aku tak ingin melihatmu kehujanan"
"Baiklah, jika kamu memaksa..."

Akhirnya aku menumpang sepeda motormu yang sudah agak butut. Bukan, bukan motor itu yang aku jadikan alasanku untuk menolakmu. Kamu tahu, tanpa sebab, aku sangat ketakutan jika aku bertemu denganmu. Aku seperti dihantui rasa bersalah.Tepatnya kemarin, kamu selalu mengejarku di manapun aku berada. Entah apa yang kamu mau. Tapi yang jelas aku bingung, ini sebenarnya ada apa? 

Aku baru sadar, sepanjang perjalanan, aku tidak terkena percikan air hujan setitikpun. Dan sepanjang perjalanan, kami juga berbincang-bincang. Kamu menjawab semua pertanyaanku yang tidak pernah dijawab oleh dia, teman akrabmu. Aku merasa obrolan ini ada yang aneh. Ada sesuatu yang berbeda. Tunggu, semua pertanyaan? Ya, dia menjawab semua pertanyaan yang biasanya tidak dijawab oleh temanmu. 

"Kenapa kamu begitu baik, kenapa kamu menjawab semua pertanyaan yang tidak pernah dijawab olehnya? Kenapa dia tidak sama sepertimu? Baik sepertimu?"

"Saya hanya mencoba berbuat yang terbaik untuk kamu, kamu adalah orang terbaik diantara orang-orang baik yang saya kenal. Dia sama saja sepertiku, dia lebih perhatian denganmu. Mungkin cara menyampaikannya berbeda denganku. Dia orang yang sangat baik. Kamu akan menyesal jika kamu terus membencinya..." 

Aku tidak tahu harus berkata apa, aku hanya bisa menangis, kamu meminggirkan motormu di tempat yang cukup teduh, aku dapat merasakan kehangatan peluk dan senyummu. Entah kenapa, pelukanmu masih terasa ketika aku telah terbangun...


Adakah sesuatu yang tidak sempat terucap ketika aku akan meninggalkan putih-biru?
Adakah sesuatu itu ingin kau ucapkan sekarang?
Tolong katakan... jangan kau sembunyikan lagi, aku lelah dikejar bayanganmu..

Monday, May 21, 2012

Senyumanmu

Aku berada di tempat yang sangat tak kukenali. Aku di mana? Aku seperti orang yang tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. 

"Siapa namamu ?" tanya seseorang yang tiba-tiba memegang pundakku.
"Eh, aku Putri, hm, kamu sendiri siapa?"

Dia tidak menjawab, dia hanya tersenyum. Senyum itu tulus sekali. Membuat yang melihatnya merasa nyaman di dekatnya, senyumnya membuat hati tenteram. Entah di mana lagi aku menemukan senyuman tulus itu selain dari kamu, orang yang pertama kali membuatku yakin bahwa tempat ini baik untukku, orang yang pertama kali memberiku senyum tulus penuh perhatian

Senyum Itu tak hanya sekedar senyum belaka. Hatimu memang sangat tulus setulus senyummu, kebaikanmu, pengorbananmu, dan segala yang baik ada padamu. Aku sangat bersyukur bisa dipertemukan oleh orang sepertimu.

Setahun kemudian, ya, perlahan-lahan aku mulai mencintai tempat ini. Tempat yang akan kukenang seumur hidup, memberikan pengalaman tak terlupakan, memberikanku teman-teman terbaik, dan memberikanku kamu :)

Aku sedih teramat, memikirkan, apakah kamu benar-benar tulus setelah kamu menyinggung perasaanku berkali-kali? Tidak peduli apa yang telah terjadi padaku suka maupun duka? Di mana kamu yang dulu, manusia baik dengan senyuman dan perasaan tulus? Apa kamu sudah membenciku? Apa aku telah tak berguna? Apa aku pantas untuk pergi dari sini? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang membuat aku semakin ragu akan kamu, yang telah memberikan senyuman tulus itu.

Namun saat aku akan memusuhimu, membalas apa yang telah kau lakukan kepadaku, lagi-lagi senyuman tulus penuh perhatian itu kau berikan lagi kepadaku, sehingga aku tak sanggup marah dan membentakmu. Sehingga sepertinya aku tak pantas untuk membencimu juga. 

Ah, senyumanmu, aku senang melihatnya, meski kamu terus menyinggungku dengan ucapan sadismu. Menusukku dengan kata-kata sakitkan hati. Namun, senyum itu terus ada di wajahmu. Senyum yang membuatku iba padamu lagi. 

Ah, senyumanmu, kau membuatku sakit dan bahagia. 
Ah, senyumanmu, aku lelah, hentikanlah sayang :'(




Penikmat senyummu,


Cindy Permata Putri :)

Wednesday, May 16, 2012

Tears in My Heart

Boleh jujurkah aku malam ini? Boleh kan? Aku ingin menyampaikan beberapa patah kata. Aku hanya ingin melepas sedikit jeratan hati dan meredakan tangisan hatiku yang sudah semakin kencang. Aku tak yakin hanya dengan menulis posting di blog, hatiku bisa tersenyum kembali. Tak semudah itu, kawan...

Kawan, aku bingung, hari ini aku harus menangis atau tersenyum. Aku sebenarnya sadar, hari ini aku tidak boleh menangis, kecuali karena tak bisa menahan kesal ketika teman-temanku mengerjaiku hari ini. 

Aku senang sekali, karena hari ini aku masih diberi umur panjang. Hatiku seakan ditumbuhi bunga-bunga berwarna-warni dan dihiasi pelangi. Bahagia. Satu kata yang dapat mewakili hatiku saat itu.

Siang itu panas sedang teriknya, ku coba melepas lelah dengan duduk di kursi koridor sekolah. Saat itu kamu datang. Mulutku tak tahan untuk tak berbagi kesenanganku hari ini. Tapi apa jawabanmu? "Aku tidak peduli". Apa? Aku hanya bisa membalas dengan senyum getir. 

Kamu, iya kamu, sebegitu benci dan dendam padaku kah sehingga kau tak pernah peduli walaupun aku sakit ataupun bahagia? Apa salahku padamu? Jika aku salah padamu, sebegitu besarkah salahku padamu? 

Oh, maaf, maaf aku telah bersedih malam ini, aku sadar bahwa aku tak pantas sedih, apalagi menangis, sungguh tak bisa mengingkari bahwa DIGABUR ITU SAKIT!

Maaf :')

Saturday, February 25, 2012

My Memories with PAPB in The Past #part 2 : Cerminan Masa Lalu

"Sampailah aku di sekolah itu. aku melihat suasana sekolah itu. ramai. murid-murid di situ kulihat berlalu-lalang. mungkin itu anak OSIS. aku masih bingung di mana teman-temanku yang lain? aku berkeliling mencari mereka. Ternyata, mereka sudah duduk di tempat duduk yang telah disediakan untuk siswa kelas 6 yang mengikuti try out di sekolah itu. aku pun segera menghampiri mereka. berkumpul dan berbincang dengan mereka, demi membunuh waktu #HAHA-__-
setengah jam berlalu, keadaan menjadi tenang seketika karena MC dari acara ini telah naik ke panggung. Aku yakin, MC yang saat itu sedang mempromosikan sekolah itu adalah guru dari sekolah itu. aku memperhatikan betul MC itu. berwibawa, ramah, sense of humor. itu yang kutangkap setelah memperhatikan MC tersebut. setelah itu, aku melihat tim paduan suara dari sekolah itu. bagus, batinku. jika aku bersekolah di sini aku pasti bisa seperti mereka, pikirku. sejak itulah aku bercita-cita menjadi salah satu anggota paduan suara dimanapun aku sekolah nanti ....." (My Memories with PAPB, October 2011)

Masih jelas bayang-bayang itu dibenakku, seakan mereka masih di depan mataku. Nyatanya tidak ada, tidak akan pernah ada untuk selamanya!

2 tahun berlalu. Aku kelas sembilan sekarang. Aku berkenalan dengan siswa kelas 7 baru. Kuperhatikan wajahnya, tatapan matanya dan tingkah lakunya. Tunggu... ada yang aneh, sepertinya aku pernah melihat anak ini. Sudah lama, tapi kapan? Coba kuingat... adek kelasku SD, bukan? Bukan... bukan, dia nggak daftar di sekolahku. Terus siapa? Perlahan aku ingat, aku tertunduk dan teteskan air mata, kulihat wajahnya kembali, kulihat senyumnya, kulihat siapa yang dilihatnya, dia itu DIRIKU! Dia masa laluku, dia adalah aku yang dulu. Aku tidak salah lihat. Memang benar!


Kudengarkan juga cerita-ceritanya, seperti aku dulu. Kuperhatikan siapa yang dikaguminya juga sama. Kulihat juga apa yang disukainya, persis! Dan aku rasakan perasaannya... sama seperti aku dulu. 


Dia memang cerminan masa laluku. Aku harap dia dapat menikmatinya, dan mempertahankannya hingga masa mendatang. Tidak sepertiku tentunya :')





With Love,


Cindy Permata Putri :)

Tuesday, December 20, 2011

#Flashback: Pesan Singkat di Kota Apel

Apa yang kamu bayangkan tentang Kota Apel? Kota penuh kenangan kah? Mungkin benar. Kota ini memang indah. Seperti julukannya, kota ini memang surganya pecinta apel. Udara yang dingin dan sejuk juga menjadi salah satu ciri khas kota ini. Beberapa tempat wisatanya yang menarik selalu ramai saat musim liburan tiba seperti sekarang ini. 
Teringat akan kunjunganku setahun yang lalu ke kota itu. Saat musim liburan pula. Indah, itulah bayangan pertama kali aku mengunjungi kota ini. 


Namun seketika itu juga, senyumku hilang. Hatiku terus gelisah! Entah apa yang waktu itu kurasakan. Haruskah ini kurasakan? Inikah yang disebut orang-orang GALAU? Ah, entahlah. Tapi waktu itu aku merasa terjebak dalam ruangan yang sangat gelap. Di mana pintu keluarnya? Batinku menangis sejadi-jadinya. I need a help!

Aku dapat keluar pada akhirnya. Walaupun hatiku masih terkurung dalam ruangan gelap itu. Masih jelas bayang-bayang yang terasa nyata, menyayat dan membunuhku perlahan. Serigala itu telah keluar dari masa silamku! 

Dan dia! Dia yang membuatku tersiksa selama ini! Dia menyobek hatiku sesukanya. Kurang tegakah dia? Apa maunya?

Terkadang aku sadar, pada akhirnya dia lah yang menghiburku dan membuatku tersenyum kembali. Aku tidak bisa membenci dia sepenuhnya. Dia cahaya hatiku! Dia membuatku kembali jatuh ke pelukan hangatnya. Namun... dia juga yang membuatku menitikkan air mata...

Hari demi hari, bulan demi bulan berganti. Orang-orang mulai menyalahkanku. Mereka bilang akulah penyebab jatuhnya aku ke ruangan gelap itu. Tidak! Bukan aku yang melakukannya! Ini memang sudah terjadi karena takdir! MEREKA TAK MENDENGAR TERIAKANKU! 

Beberapa orang kebanyakan bukannya membantuku keluar dari jeratan masa lalu, mereka malah MENGINGATKANNYA! Apakah tangis hatiku tak terdengar? :'(

Ternyata benar. Kembali pada dia, ternyata selama ini tindakanku untuk mencoba melupakan dan memaksa hatiku membencinya adalah salah. Tujuannya ternyata selama ini baik, dia ingin tenangkan hatiku yang gundah. Bodohnya aku! Kenapa aku baru sadar sekarang? Padahal dia yang telah sembuhkan psikis ku yang sakit, tapi aku baru berterima kasih sekarang. Dan aku baru sadar, aku keluar dari ruangan itu tak sendiri. Dia membantuku. Dia sang penghibur yang selama ini kucari. Dia adalah kebaikan yang selama ini tersembunyi. 


Dia, melalui pesan singkatnya, telah temukan kembali senyumku, yang hilang diambil Kota Apel :)






NB:
- Tulisan ini dibuat hanya sekedar untuk mengenang dan mengapresiasikan isi hati. Maaf jika ada yang merasa tersinggung. Tidak ada unsur kesengajaan.

- Saya belum pernah merasakan GALAU sebelum ke kota ini. Hihi




Sorry and Thanks,


Cindy Permata Putri 

Saturday, November 26, 2011

#Flashback: Duapuluhenam November Duaribusepuluh :'(

"Where's location of a HEART?"
16 November 2010
Guru itu sedang menerangkan materi pelajaran. Entah apa yang diterangkannya. Yang aku tahu, guru itu sedang mengajarkan geografi. Sekelilingku terlihat samar-samar. Aku merasa tidak kuat lagi. "Ayo aku antar ke UKS" ujar seorang temanku. Aku hanya menurut saja. Badanku sudah lemas tak berdaya saat itu.

Aku pun masuk ke ruang serba putih itu. Guru BK langsung menghampiri kami dan menanyaiku. "Kamu kenapa mbak? Mukamu pucat sekali. Kamu puasa sunah arafah hari ini?" aku hanya menggeleng. "Yasudah tak apa, tak usah puasa dulu. Sekarang kamu berbaring saja di sini. Tak usah ikut pelajaran" saran beliau. Aku pun dituntun temanku menuju ke tempat tidur.

Temanku kembali ke kelas. Tinggal aku sendiri. Beberapa menit kemudian, seseorang mengetuk pintu UKS "Masuk!" kataku. Siapa itu? Ternyata..... dia! 

"Ngapain kamu kesini? Tau darimana aku sakit?" tanyaku lemah.
"Tidak usah kau tanyakan. Aku hanya ingin menjengukmu.."
Tanpa sadar, tanganku meraih tangannya. Begitu pula dia, berusaha tuk meraih tanganku. Apa yang terjadi? Raganya terbang! Ia menghilang entah ke mana. Air mataku mengalir deras melihatnya. KAMU KEMANA?? :'(

Ketukan pintu yang kedua membuat aku keluar dari mimpi burukku itu. Yang mengetuk pintu adalah kakak kelas yang hendak mengambil minyak kayu putih. 
Dan saat itu aku masih bertanya-tanya, KAMU DIMANA...

10 hari kemudian..


Tepat pukul 13.00, jam BTAQ. Hari itu guru BTAQ tidak masuk dengan alasan sakit. Kelas kami digabung dengan kelas BTAQ yang lain supaya kelas kami tidak kosong. Aku terkejut ketika aku melihat guru BTAQ pengganti mengajar dengan membawa barang-barang yang biasa dipakai guru BTAQ ku dan beliau berkata kepadaku :


"Saya seperti ini biar kamu nggak kehilangan.."

Aku tersentak! Apa maksud semua ini? Kupikir guru BTAQ pengganti hanya sekedar bergurau. Namun gurauan itu secara tak sengaja membekas di hatiku yang paling dalam, hingga kini :'(


Setahun berlalu, namun bekas itu masih ada. Aku takut kehilangan itu benar-benar terjadi. Aku berusaha melindungi kamu. Pada tahu nggak? Yaudah nggak apa apa, sekarang aku kasih tahu aja. Kini aku hanya bisa berdoa, ya Allah lindungi dia, lindungilah... :')




#Kalian pengin tau maksud dari qoute di atas? SIlakan log in ke facebook dan buka note dibawah ini :


1. Qisahi 2 (Bagian 4) #26 November 2010#
2. Dream

Atau buka posting ini : Dream (again, again, and again)

Monday, November 7, 2011

Hujan, Jangan Ambil Belahan Jiwaku! (draft of indonesian assignment)


 Tak ada seorang pun di sini. Tolong aku! Aku ingin pulang. Aku terjebak di tengah-tengah hujan yang lebat. Di mana semua orang? Guru-guru? Teman-teman? Di mana mereka? Tolong aku, aku tak ingin berlama-lama di sini! Aku takut. Tanpa sadar aku teteskan air mata.

“Jangan takut, ada aku di sini, Alika. Sudah jangan menangis!” suara itu mengejutkan aku. Dia datang sembari menghapus air mata di pipiku.

“Terima kasih, Tria! Kamu nggak pulang?” tanyaku.
“Aku juga nunggu hujan reda,” katanya.
“Kenapa kamu baru ke sini?” tanyaku lagi.
“Aku tadi masih mengurus mading kelas,”
“Sendirian?”
“Ya, begitulah. Oh, ya, kenapa tadi kamu nangis?”
“Hmm… aku takut. Aku kirain tadi nggak ada orang, hehe” kataku tersipu malu.
“Kan masih ada aku, hahaha” candanya.
“Ah kamu ini bisa aja,”

Tiba-tiba, dia menghilang, entah ke mana dia. Aku mencari-cari namun tak kudapati dirinya. Kamu di mana? Sejenak aku berpikir, kemudian aku tersadar bahwa orang itu hanyalah bayanganmu aja! Aku baru inget kalo kamu udah dipanggil Tuhan 2 minggu yang lalu.

Setiap kali hujan, aku selalu teringat saat-saat itu. Di mana kamu menghibur aku saat sedih, tenangkan hatiku ketika galau dan gundah, dan hapus air mataku tiap kali menetes. Namun kini sosok itu telah menghilang. Aku berusaha mencari tapi selama aku mencari tak pernah kutemukan sosok sepertimu. Kamu ke mana?

Aku masih ingat ketika ada seseorang memberitahuku bahwa Tria telah tiada. Katanya, dia meninggal dunia akibat kanker hati yang dideritanya sudah mencapai stadium akhir. Setelah orang itu memberitahuku aku langsung menuju rumah sakit tempat dia dirawat.

Aku menangis sejadi-jadinya. Aku menyesal tak menepati janjiku pada Tria untuk melindunginya. Aku bahkan tak pernah tahu bahwa Tria mengidap penyakit yang membuat belahan jiwaku pergi untuk selama-lamanya.

Hujan yang tadinya memberikan kenangan indah dan menjadi penenang hati kini menjadi penanda suasana duka dan hujan mewakili hatiku yang muram durja. Hujan kini juga menjadi sesuatu yang jahat bagiku. Ia mengambil belahan jiwaku. Hujan, kembalikan belahan jiwaku. Jangan ambil belahan jiwaku!

Namun aku tersadar bahwa ini semua adalah kehendak Tuhan. Tidak ada yang pernah menginginkan seseorang yang dicintainya pergi. Namun jika Tuhan menghendaki maka terjadilah…

Mungkin suatu saat nanti, akan ada seseorang yang menggantikan posisi Tria di hatiku. Aku yakin, Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah dibalik semua ini. Dan aku yakin, setelah kesusahan pasti akan ada kemudahan. Aku janji takkan menangisi Tria lagi. Aku harus kuat!

 Hari demi hari berganti, hujan yang deras kembali turun dan aku terjebak kembali. Aku berusaha menahan tangis. Aku coba lupakan semua tentang Tria. Aku harus bertahan. Aku tak boleh terus-menerus terbelenggu dalam kesedihan. Kini, aku mencoba bahagia dengan pengganti Tria. Aku tahu Tria akan senang melihat aku bersinar kembali.



Sunday, November 6, 2011

The Story of Takbiran Idul Adha 1431 H and 1432 H

Kisah takbiran idul Adha tahun lalu. Enjoy :)


Hore! akhirnya keinginanku buat ikut takbiran terwujud. Perjuangan untuk membujuk sang ortu pun tak sia-sia, abisnya, aku lagi sakit (yaa iya aku ngaku aku lagi sakit waktu itu) 

Ini bisa dibilang pengalaman pertama aku ikut takbiran. Dimulai dari aku sama adel nunggu tarphut lamaa banget! Itu sebabnya aku kemarin telat nyampe sekolah. Payah-payah...
Setelah solat isya berjamaah selesai, dilanjutin sama takbiran. Abis itu tausiyah deh!

Nah ini nih inti dari cerita satu ini, waktu itu aku mau absen sambil nelpon my father yang katanya bisa jemput aku. nah terus, pas aku mau telpon, ada ***** lewat di depan r a u n a! dan apa yang terjadi? Rauna pun menarik-narik bajunya dan sambil berkata apa gitu-_-. intinya, Rauna berusaha ngasih tau kalo aku ada disitu. Aku yang tadinya gak bisa teriak-teriak gara-gara sakit, tapi kok jadi ajaib gini yaa?? Aku bisa teriak kenceng banget! temen-temen juga pada heran!
"Paaakk, stop gausah kayak gitu!" 
Anehnya, abis teriak kayak gitu, aku langsung sembuh! ajaib tenan! Haha.

Epilog

Tahun lalu kayaknya ngebet banget pengin ikut. Tapi nggak buat tahun ini. Nyesek banget! Seharusnya idul adha yang merupakan momen penting untuk diperingati mendadak menjadi hal yang menyedihkan. Mungkin aku sedih karena shaun the sheep akan mengakhirkan episodenya hari ini. Bukan, bukan itu alasannya mengapa aku sedih. Lalu apa? Entahlah....


Saturday, November 5, 2011

Buat Orang yang Selama ini Jadi Panutanku !


Kenapa ya akhir-akhir ini aku selalu merasa kamu hilang dari kami? Aku juga bingung, bingung banget. Gak ada jalan lain selain menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, bagaimana perasaanku sekarang..

Meskipun mungkin cara ini mempermalukan diriku sendiri, tapi aku udah gakuat merasakan ini. aku jadi tertekan.
Apa semua ini gara" kejadian 26-11-10 waktu itu? (posting about this click here , or login to facebook and  open this)

Aku mohon bantu aku lepas dari perasaan dan bayang-bayang yang menjerat aku selama hampir setahun ini.

Buat orang yg kumaksud di posting ini, aku mohon dengarkan aku sejenak saja.
Aku butuh bantuan agar ku tak terbelenggu dari pikiran ini..
Aku butuh nasihat, aku butuh dukungan, aku butuh bantuan, aku butuh dukungan moral.. DARIMU
Aku harap kau mengerti..


(17 Desember 2010)

Syukran Katsiran :')

Tuesday, November 1, 2011

Menari di Antara Gerimis

Sebuah cerpen karya Radischa Ivonne. Cerpen ini aku re-blog karena isinya tentang kehilangan. Enjoy!



Padang rumput yang selalu indah, dan basah di pagi hari. Butiran embun yang menempel di rumput berpindah ke pantatku setelah aku duduk di atasnya. Di antara kabut tebal dan anganku sendiri, berkelebat peristiwa beberapa tahun lalu. Saat aku masih seorang gadis kecil dengan tinggi sekitar satu meter. Bayangan itu semakin jelas tertangkap indera penglihatku, yang sekaligus membawaku lebih jauh dari realita.
Kaki kecil itu menari, melompat, berputar dengan lincah. Tangan kecilnya pun tak henti-hentinya berusaha menangkap gerimis. Sedangkan seorang bocah laki-laki gendut yang bersamanya, hanya duduk, tertawa terpingkal-pingkal sambil sesekali berteriak memberi semangat, "Ayo tangkap, tangkap gerimisnya !".


Tommi, teman kecilku. Tapi aku lebih suka menyebutnya belahan jiwaku. Kami banyak menghabiskan waktu bersama. Terlebih saat gerimis. Tommi selalu membawaku ke tempat ini dan menemaniku bermain gerimis meskipun orangtua kami tak pernah bosan melarang keluar rumah saat hujan. Ya, alasan wajar para orangtua karena tidak menginginkan anak mereka sakit. Tapi kami tetap bocah kecil lima tahun yang hanya mengerti tentang bersenang-senang.


Tommi paling mengerti aku, setidaknya itulah anggapanku dulu. Dia bahkan rela telinganya dijewer ibuku gara-gara membawaku kabur. Satu-satunya alasan bertahan adalah karena Tommi tau kalau aku amat suka gerimis, melebihi seluruh boneka yang kumiliki di rumah.


Tidak ada satupun yang tau tentang rahasia Tuhan. Gerimis yang tadinya sangat kucintai mendadak membuatku muak dan menjadi salah satu hal yang tak lagi ingin kusentuh. Aku sadar ini rencana Tuhan. Dia mengambil sebelah jiwaku untuk kembali ke sisiNya. Membiarkanku sendiri bersama gerimis yang kini seolah menghujam kepalaku teramat keras. Bayangan Tommi selalu muncul di balik gerimis.

Empat belas tahun berlalu. Aku kembali ke tempat ini disaat langit abu-abu. Muncul keyakinan kalau sebentar lagi akan hujan. Aku sengaja menantang hatiku untuk tidak lagi terpuruk. Aku ingin menyentuh gerimis dan bayangan Tommi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun itu.

Gerimis menerpa wajahku ketika aku menengadah ke atas. Aku dapat merasakan Tommi masih duduk di sampingku sambil tersenyum. Aku pun tersenyum meskipun dengan air mata yang bercampur gerimis. Aku ikhlas demi Tommi, juga demi seseorang yang saat ini datang dan membentangkan payung di atas kepalaku.


Terima kasih Tuhan telah mengirimkan "Tommi yang lain" di kehidupanku.


Monday, October 24, 2011

I Made Him as My Hero, is it Wrong?

Aku kesepian sekarang. Aku berbagi dengan siapa? Aku cerita dengan siapa? Di saat galau seperti ini, aku tak mempunyai teman untuk berbagi keluh kesah. Rasanya aku seperti tertawa dan menangis sendiri. Namun semua itu berbeda ketika sang penghiburku datang. Dia selalu sembuhkan hatiku yang luka, hapus air mataku yang menetes dan selesaikan masalah yang menimpa diriku.

Tapi sepertinya hakku untuk memilih sang penghiburku terbatas. Haruskah aku memilih sang penghibur selain dirinya? Aku tak pernah bisa! Sejuta cara kulakukan agar aku mencari sang penghibur yang lain tapi hatiku hanya jatuh tepat pada dirinya. Kuakui itu.

Aku selalu iri melihat mereka bisa menentukan sang penghiburnya. Mereka bebas memilih dan  bencengkrama dengan sang penghiburnya. Sedangkan aku? Ketidakadilan yang aku dapat!

Oh Tuhan, aku hanya ingin ada seseorang yang dapat menjadi panutanku dan dapat menghiburku. Aku juga ingin seperti mereka yang bebas menentukan pilihannya. Tuhan, apakah pilihanku salah atau tak tepat? :'(

Apa karena aku tak cantik seperti mereka? Atau karena aku tak pandai? 

MENGAPA? :'(

Jika menurut kalian aku salah, nggak apa-apa. Tapi apakah kalian nggak ngerti aku butuh sang penghibur seperti dia? AKU JUGA INGIN, TEMAN! AKU INGIN!



Maaf dan terima kasih,


Cindy Permata Putri :)



Thursday, October 20, 2011

#Flashback : Twentieth to Remember , I and Writefobia

Pagi ini, nggak ada yang aneh. Semuanya berjalan apa adanya sampai ikrar bersama. Tapi setelah ikrar itu nggak tau kenapa rasanya ada yang aneh dan ngganjal. Sebenarnya kenapa? Apa karena hari ini aku duduk sendirian di bangku depan? Hm, nggak terlalu pengaruh. Apa karena ulangan matematika? Nggak juga ah. 

Oooo.. aku tau! mungkin gara-gara ini, pelajaran bahasa Indonesia. Aku nggak benci sama pelajarannya, apalagi gurunya. Nggak, ini semua gara-gara materi bahasa Indonesia yang sedang membahas subbab baru, CERPEN! Denger kata yang satu itu langsung buat aku down, galau, dan nggak semangat ngikutin pelajarannya. Kalau cuma nyari latar atau unsur intrinsik kayak waktu kelas VIII sih nggak papa. Tapi di kelas IX harus BUAT cerpen! bayangin, gimana nggak galau coba!

Kayaknya hari ini semua orang pada jahat! Pertama waktu bahasa Indonesia tadi. Pokoknya setelah bahasa Indonesia itu temanya nggak ganti-ganti, cerpen! Nggak peduli mau pelajaran Al-quran Hadis kek, mau Fikih kek, mesti selalu ngarah ke arah sana. Ditambah lagi waktu pulang sekolah masih aja dibahas :'(

Daritadi bahas cerpen, galau, apa sih sebenernya? Kasih tau nggak yaaa? Hm, nggak usah ya. Ini privasi. Eh, nggak privasi sih, cuma males bahasnya. Takut galau lagi, hehehe. 

Jadi kalian udah tau kan kenapa udah hampir 2 minggu ini, status fb dan posting blog isinya quotes lama dan lirik lagu? Ya, aku sedang mengalami WRITEFOBIA. Di mana aku sedang takut untuk menghasilkan karya tulis. Jangankan menghasilkan, denger kata 'nulis' atau 'cerpen' apalagi 'novel' aja udah down banget. Meskipun tagline blogger ku ini "Orang berkarya itu tuk hari ini, esok, dan akan datang hingga ajal menjemput" #eaaa #ustad rauna qoutes :D

Kalau boleh jujur, aku masih suka nulis. Tapi semangatku udah ilang sama sekali. Aku sedang butuh orang untuk membangkitkan semangat itu. I want to move on! HELP ME PLEASE ! :'(


Syukran :)