Tampak Yanti seorang pelajar tengah duduk di salah satu meja itu. Ia menekuni sebuah buku pelajaran. Asdiarti, sahabatnya masuk. Waktu itu sudah hampir jam satu. Sekolah sudah selesai. Bahwa Yanti belum pulang, itulah yang menyebabkan Asdiarti terkejut
Asdiarti :. Kau masih di sini,
Yanti. Belum pulang ?
Yanti : (Tidak menjawab. Ia hanya
menggelengkan kepala dan terus melanjutkan membaca)
Asdiarti : (mendekat) Ada
sesuatu?
Yanti : (Menggeleng)
Asdiarti : Aku mengerti
persoalanmu sebenarnya, Yanti. Lebih baik kau mengatakan kepadaku persoalanmu.
Kalau aku tahu persis duduk perkaramu mungkin aku bisa membantumu
Yanti : Aku mengerti, aku memang
harus mengatakannya, tetapi aku tidak tahu dari mana dan bagaimana aku tahu
memulainya
Asdiarti : Kenapa?
Yanti : Sangat ruwet
Asdiarti : Kau dipaksa kawin oleh
orang tuamu?
Yanti : Antara lain itu, tetapi
banyak lagi soalnya
Asdiarti : Aha?
Yanti : Ah, sudahlah. Sebaiknya
kau tak usah memaksaku untuk mengatakannya. Sulit. Terlalu sulit
Asdiarti : Yah, aku tahu kau
tidak kerasan di rumah
Yanti : (Memandang).
Asdiarti : Itu persoalan yang
banyak kita rasakan bersama
Yanti : Kau juga mengalami hal
seperti itu?
Asdiarti : Memang. Cuma
persoalanku tidak seberat persoalanmu. Aku selalu menghibur diri dengan cara
pergi dengan teman-teman pria kalau hari Minggu
Yanti : Dulu aku mencoba
demikian, tetapi kalau aku pergi, sesudah sampai di rumah aku mengalami
peristiwa yang sama, bahkan terasa lebih berat. Maka, aku menghentikan semua
itu
Asdiarti : Tetapi, kita harus
menghibur diri, Yanti
Yanti : Lebih dari itu, aku ingin
menyelesaikan persoalan. Cara seperti itu tidak menyelesaikan persoalan. Itu bahkan
menyiksa. Makin menyiksa
Asdiarti : Lalu, mesti gimana?
Yanti : Aku tidak mengerti
Asdiarti : Tidak mengerti
Yanti : Itulah yang menyedihkan.
Kita mengalami sesuatu, tetapi kita tak mengerti bagaimana memahami pengalaman
itu sendiri
Asdiarti : (Tersenyum).
Yanti : Kau tersenyum mengejekku?
Asdiarti : Kau tidak tahu, Yanti,
bahwa kau sebenarnya gelisah bukan ? Aku juga gelisah. Nah...
Yanti : Benar. Kupikir, kita ini
mau apa? Setelah sekolah ini, lalu kita akan melanjutkan sekolah lagi.
Barangkali hanya satu atau dua tahun. Paling banter tiga tahun sudah itu kita
dipinang orang. Kita menjadi seorang ibu...Apa artinya semua pelajaran yang
kita terima selama ini
Asdiarti : Nah... (Tersenyum).
Yanti : Kita mempersiapkan diri
kita untuk menjadi sesuatu yang tidak ada artinya
Asdiarti : Maksudmu?
Yanti : Menjadi istri dan ibu.
Apa artinya itu? Apa pula hubungannya dengan sekolah kita tempuh selama ini?
Asdiarti : Makanya kita gelisah
karena sebenarnya kita tak pernah mengerti nasib kita yang akan datang
Yanti : Dan persoalan yang kita
hadapi itu, tidak bisa dipecahkan dengan ilmu pengetahuan yang kita terima di
sekolah sekarang ini
Asdiarti : Kau mau? (Mengeluarkan
sebatang rokok).
Yanti : Apa ini?
Asdiarti : Bawalah kalau kau mau.
Kau akan memperoleh ketenangan
Yanti : (Menerima lalu
meletakkannya di atas meja).
Asdiarti : Ambillah simpan di
tasmu. Jangan sampai kelihatan guru
Yanti : (Memandang dengan penuh
keheranan).
Asdiarti : Kalau kau tak mau,
biarlah ku simpan sendiri. Ini cukup mahal. Kau bisa datang ke rumahku kalau
kau mau. Nanti Antok, Yusman, dan Joko akan datang untuk menjemput aku
pergi...”
Yanti : (Berdiri) Pergi ke mana?
Asdiarti : Pergi ke suatu tempat
pokoknya... sip. deh
Yanti : Ku mendengar dari Ketiek,
kesenanganmu pergi ke tempat-tempat itu!
Asdiarti : Berdosa?
Yanti : Bukan
Asdiarti : Maksiat
Yanti : Bukan
Asdiarti : Itulah dunia muda masa
kini
Yanti : Barangkali benar
Asdiarti : Nah...akhirnya kau
menerima juga, toh
Yanti : Tapi mengapa harus
begitu? Itu berbahaya bagi kesehatan. Kita masih sangat muda. Bayangkan kalau
masa remaja kita habiskan dengan cara-cara itu, nanti tua kita dapat apa? Lagipula,
tujuanmu mencari kebebasan, kok, dengan menempuh jalan itu? Apakah sebenarnya
kau telah membuat dirimu diperbudak kembali oleh kebiasaanmu itu?
Asdiarti : Aku tak mengerti
omonganmu, Yanti. Kalau kau tak mau, tak usah bertele-tele menasehatiku
Yanti : (Diam).
Asdiarti : Baiklah. Kau pulang
tidak? Itu Kusni, Surti sudah menunggu di luar. Kalau tidak pulang, aku pulang
duluan...dan kalau kau mau, ku tunggu nanti sore di rumahku.
Yanti : Kenapa kau takut ketahuan
guru kita?
Asdiarti : Karena mereka akan
marah. Merampas dan menyetrap kita
Yanti : Kau tahu sebabnya?
Asdiarti : Nggak. Mereka orang
tua yang kolot seperti orang tua kita saja
Yanti : Itu berbahaya. Obat bius
dilarang diedarkan secara bebas
Asdiarti : Tapi mereka toh tak
sanggup menyelesaikan kegelisahanku. Sedikit-sedikit bilang dosa, maksiat,
porno, huh!
Kusni : Astaga. Ngapain, nih,
kalian di sini? Ku tunggu di luar sampai lama banget
Asdiarti : Mau nolong Yanti.
Akibatnya malah dapat kuliah
Surti : Pantesan. Habis cita-cita
Yanti mau jadi dosen
Yanti : Aku memperingati Asdiarti
bahaya main-main rokok begituan
Surti : Sudahlah. Mari kita
pulang saja. Ini sudah jam setengah dua. Sebentar lagi kelas ini dipakai
anak–anak sore
Yanti : Pulanglah dulu kalau
kalian mau pulang. Aku butuh belajar...
Surti : Aaahh...kau menunggu Pak
Lukas? (Surti, Asdiarti, Kusni, tertawa bersama).
Yanti : Pergi!
Kusni: Yanti, aku mencintaimu,
boleh?
Yanti: (mengangguk)
Kusni: Kenapa kita harus
bertengkar. Kita bersahabat, bukan?
Yanti: (merebahkan kepala ke
meja)
Kusni: Sebenarnya kau tak usah
melanjutkan hubungan dengan Pak Lukas. Apa, sih, untungnya. Paling kau hanya
memperoleh nasihat-nasihat saja. Nasihat tidak akan menyelesaikan persoalanmu.
Keuntungannya hanya muak, mual…
Yanti: Barangkali benar. Tapi,
aku membutuhkan nasihat-nasihat itu. Aku memerlukan guru yang tidak cuma pandai
mengajar, tetapi juga memperhatikan diriku. Aku butuh bimbingan.
Kusni: Tetapi sebagai akibatnya,
istrinya menjadi cemburu kepadamu. Bukankah itu merusak rumah tangganya?
Yanti: Aku tahu. Itulah yang
kusedihkan. Tapi, aku memang membutuhkan dia…
Kusni: Memang aku sebenarnya juga
Yanti: Dulu kuharapkan Bu Sri mau
mengerti persoalanku. Tapi, ia malah marah melulu
Asdiarti : Sekolah ini memang
konyol
Yanti : Sekolah ini tidak salah.
Tapi kita yang salah. Kita terlalu menuntut banyak
Kusni : Kita membutuhkan sesuatu
di sekolah ini kalau sesuatu yang kita butuhkan tidak kita temukan di rumah
Asdiarti: Sesuatu itu apa?
Kusni Aku tak mengerti
Asdiarti: Barangkali… (tersenyum)
semacam kehangatan
Yanti : Ya, tepat
Kusni : Sukar sekali
Yanti : Sedih bukan?
Asdiarti : Ya, kehangatan… bukan
mimpi-mimpi, bukan pelarian (mengambil rokok lalu membuang)
Kusni: Agar kita betah di sekolah,
tapi apa itu mungkin....?
Yanti : Sedih sekali
Asdiarti : (Berjalan mau
mengambil rokok yang sudah dibuang)
Yanti : Biar guru-guru kita
mengerti, inilah dunia kita yang sebenarnya
Asdiarti : Tapi aku akan dimarahi
lagi
Yanti : Akulah yang akan bilang
bahwa aku yang membawa rokok itu
Asdiarti : Yanti!
Yanti : Aku mau tahu, sesudah marah,
guru-guru kita lalu berbuat apa pada kita
Kusni : Aku akan ikut dimarahi,
Yanti. Ayo, ambil, Asdi!
Yanti : Jangan!
Surti : Kau jangan aneh-aneh,
Yanti. Kalau kita dikelurkan bagaimana...?
Yanti : “Percayalah. Guru-guru
kita perlu mengerti apa yang kita pikirkan, kita butuhkan, kita gelisahkan
setiap hari....agar mereka tidak sekedar menempa kita dengan rumus-rumus yang
harus kita hafal melulu...” (Yanti pergi yang lain menatap terus mengikuti
perginya).
Asdiarti : “Yanti.., Yanti
tunggu...”
Keterangan:
*Kata yang bercetak warna orange adalah yang selalu kualami setiap hari. AKU TIDAK SEPERTI YANTI! Dan yang aku tebalkan itu adalah pesan yang ingin aku sampaikan
*Kata yang bercetak warna hijau adalah mungkin... perasaan kita selama di PAPB tercinta. Mungkin saja :)
Thanks,
Cindy Permata Putri
No comments:
Post a Comment