Friday, January 6, 2012

Tanda Bahaya

Drama di bawah ini merupakan karya dari Bakdi Soemanto. Enjoy :D


Tampak Yanti seorang pelajar tengah duduk di salah satu meja itu. Ia menekuni sebuah buku pelajaran. Asdiarti, sahabatnya masuk. Waktu itu sudah hampir jam satu. Sekolah sudah selesai. Bahwa Yanti belum pulang, itulah yang menyebabkan Asdiarti terkejut


Asdiarti :. Kau masih di sini, Yanti. Belum pulang ?

Yanti : (Tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala dan terus melanjutkan membaca)

Asdiarti : (mendekat) Ada sesuatu?

Yanti : (Menggeleng)

Asdiarti : Aku mengerti persoalanmu sebenarnya, Yanti. Lebih baik kau mengatakan kepadaku persoalanmu. Kalau aku tahu persis duduk perkaramu mungkin aku bisa membantumu

Yanti : Aku mengerti, aku memang harus mengatakannya, tetapi aku tidak tahu dari mana dan bagaimana aku tahu memulainya

Asdiarti : Kenapa?

Yanti : Sangat ruwet

Asdiarti : Kau dipaksa kawin oleh orang tuamu?

Yanti : Antara lain itu, tetapi banyak lagi soalnya

Asdiarti : Aha?

Yanti : Ah, sudahlah. Sebaiknya kau tak usah memaksaku untuk mengatakannya. Sulit. Terlalu sulit

Asdiarti : Yah, aku tahu kau tidak kerasan di rumah

Yanti : (Memandang).

Asdiarti : Itu persoalan yang banyak kita rasakan bersama

Yanti : Kau juga mengalami hal seperti itu?

Asdiarti : Memang. Cuma persoalanku tidak seberat persoalanmu. Aku selalu menghibur diri dengan cara pergi dengan teman-teman pria kalau hari Minggu

Yanti : Dulu aku mencoba demikian, tetapi kalau aku pergi, sesudah sampai di rumah aku mengalami peristiwa yang sama, bahkan terasa lebih berat. Maka, aku menghentikan semua itu

Asdiarti : Tetapi, kita harus menghibur diri, Yanti

Yanti : Lebih dari itu, aku ingin menyelesaikan persoalan. Cara seperti itu tidak menyelesaikan persoalan. Itu bahkan menyiksa. Makin menyiksa

Asdiarti : Lalu, mesti gimana?

Yanti : Aku tidak mengerti

Asdiarti : Tidak mengerti

Yanti : Itulah yang menyedihkan. Kita mengalami sesuatu, tetapi kita tak mengerti bagaimana memahami pengalaman itu sendiri

Asdiarti : (Tersenyum).

Yanti : Kau tersenyum mengejekku?

Asdiarti : Kau tidak tahu, Yanti, bahwa kau sebenarnya gelisah bukan ? Aku juga gelisah. Nah...

Yanti : Benar. Kupikir, kita ini mau apa? Setelah sekolah ini, lalu kita akan melanjutkan sekolah lagi. Barangkali hanya satu atau dua tahun. Paling banter tiga tahun sudah itu kita dipinang orang. Kita menjadi seorang ibu...Apa artinya semua pelajaran yang kita terima selama ini

Asdiarti : Nah... (Tersenyum).

Yanti : Kita mempersiapkan diri kita untuk menjadi sesuatu yang tidak ada artinya

Asdiarti : Maksudmu?

Yanti : Menjadi istri dan ibu. Apa artinya itu? Apa pula hubungannya dengan sekolah kita tempuh selama ini?

Asdiarti : Makanya kita gelisah karena sebenarnya kita tak pernah mengerti nasib kita yang akan datang

Yanti : Dan persoalan yang kita hadapi itu, tidak bisa dipecahkan dengan ilmu pengetahuan yang kita terima di sekolah sekarang ini

Asdiarti : Kau mau? (Mengeluarkan sebatang rokok).

Yanti : Apa ini?

Asdiarti : Bawalah kalau kau mau. Kau akan memperoleh ketenangan

Yanti : (Menerima lalu meletakkannya di atas meja).

Asdiarti : Ambillah simpan di tasmu. Jangan sampai kelihatan guru

Yanti : (Memandang dengan penuh keheranan).

Asdiarti : Kalau kau tak mau, biarlah ku simpan sendiri. Ini cukup mahal. Kau bisa datang ke rumahku kalau kau mau. Nanti Antok, Yusman, dan Joko akan datang untuk menjemput aku pergi...”

Yanti : (Berdiri) Pergi ke mana?

Asdiarti : Pergi ke suatu tempat pokoknya... sip. deh

Yanti : Ku mendengar dari Ketiek, kesenanganmu pergi ke tempat-tempat itu!

Asdiarti : Berdosa?

Yanti : Bukan

Asdiarti : Maksiat

Yanti : Bukan

Asdiarti : Itulah dunia muda masa kini

Yanti : Barangkali benar

Asdiarti : Nah...akhirnya kau menerima juga, toh

Yanti : Tapi mengapa harus begitu? Itu berbahaya bagi kesehatan. Kita masih sangat muda. Bayangkan kalau masa remaja kita habiskan dengan cara-cara itu, nanti tua kita dapat apa? Lagipula, tujuanmu mencari kebebasan, kok, dengan menempuh jalan itu? Apakah sebenarnya kau telah membuat dirimu diperbudak kembali oleh kebiasaanmu itu?

Asdiarti : Aku tak mengerti omonganmu, Yanti. Kalau kau tak mau, tak usah bertele-tele menasehatiku

Yanti : (Diam).

Asdiarti : Baiklah. Kau pulang tidak? Itu Kusni, Surti sudah menunggu di luar. Kalau tidak pulang, aku pulang duluan...dan kalau kau mau, ku tunggu nanti sore di rumahku.

Yanti : Kenapa kau takut ketahuan guru kita?

Asdiarti : Karena mereka akan marah. Merampas dan menyetrap kita

Yanti : Kau tahu sebabnya?

Asdiarti : Nggak. Mereka orang tua yang kolot seperti orang tua kita saja

Yanti : Itu berbahaya. Obat bius dilarang diedarkan secara bebas

Asdiarti : Tapi mereka toh tak sanggup menyelesaikan kegelisahanku. Sedikit-sedikit bilang dosa, maksiat, porno, huh!

Kusni : Astaga. Ngapain, nih, kalian di sini? Ku tunggu di luar sampai lama banget

Asdiarti : Mau nolong Yanti. Akibatnya malah dapat kuliah

Surti : Pantesan. Habis cita-cita Yanti mau jadi dosen

Yanti : Aku memperingati Asdiarti bahaya main-main rokok begituan

Surti : Sudahlah. Mari kita pulang saja. Ini sudah jam setengah dua. Sebentar lagi kelas ini dipakai anak–anak sore

Yanti : Pulanglah dulu kalau kalian mau pulang. Aku butuh belajar...

Surti : Aaahh...kau menunggu Pak Lukas? (Surti, Asdiarti, Kusni, tertawa bersama).

Yanti : Pergi!

Kusni: Yanti, aku mencintaimu, boleh?

Yanti: (mengangguk)

Kusni: Kenapa kita harus bertengkar. Kita bersahabat, bukan?

Yanti: (merebahkan kepala ke meja)

Kusni: Sebenarnya kau tak usah melanjutkan hubungan dengan Pak Lukas. Apa, sih, untungnya. Paling kau hanya memperoleh nasihat-nasihat saja. Nasihat tidak akan menyelesaikan persoalanmu. Keuntungannya hanya muak, mual…

Yanti: Barangkali benar. Tapi, aku membutuhkan nasihat-nasihat itu. Aku memerlukan guru yang tidak cuma pandai mengajar, tetapi juga memperhatikan diriku. Aku butuh bimbingan.

Kusni: Tetapi sebagai akibatnya, istrinya menjadi cemburu kepadamu. Bukankah itu merusak rumah tangganya?

Yanti: Aku tahu. Itulah yang kusedihkan. Tapi, aku memang membutuhkan dia…

Kusni: Memang aku sebenarnya juga

Yanti: Dulu kuharapkan Bu Sri mau mengerti persoalanku. Tapi, ia malah marah melulu

Asdiarti : Sekolah ini memang konyol

Yanti : Sekolah ini tidak salah. Tapi kita yang salah. Kita terlalu menuntut banyak

Kusni : Kita membutuhkan sesuatu di sekolah ini kalau sesuatu yang kita butuhkan tidak kita temukan di rumah

Asdiarti: Sesuatu itu apa?

Kusni Aku tak mengerti

Asdiarti: Barangkali… (tersenyum) semacam kehangatan

Yanti : Ya, tepat

Kusni : Sukar sekali

Yanti : Sedih bukan?

Asdiarti : Ya, kehangatan… bukan mimpi-mimpi, bukan pelarian (mengambil rokok lalu membuang)

Kusni: Agar kita betah di sekolah, tapi apa itu mungkin....?

Yanti : Sedih sekali

Asdiarti : (Berjalan mau mengambil rokok yang sudah dibuang)

Yanti : Biar guru-guru kita mengerti, inilah dunia kita yang sebenarnya

Asdiarti : Tapi aku akan dimarahi lagi

Yanti : Akulah yang akan bilang bahwa aku yang membawa rokok itu

Asdiarti : Yanti!

Yanti : Aku mau tahu, sesudah marah, guru-guru kita lalu berbuat apa pada kita

Kusni : Aku akan ikut dimarahi, Yanti. Ayo, ambil, Asdi!

Yanti : Jangan!

Surti : Kau jangan aneh-aneh, Yanti. Kalau kita dikelurkan bagaimana...?

Yanti : “Percayalah. Guru-guru kita perlu mengerti apa yang kita pikirkan, kita butuhkan, kita gelisahkan setiap hari....agar mereka tidak sekedar menempa kita dengan rumus-rumus yang harus kita hafal melulu...” (Yanti pergi yang lain menatap terus mengikuti perginya).

Asdiarti : “Yanti.., Yanti tunggu...”






Keterangan:
*Kata yang bercetak warna orange adalah yang selalu kualami setiap hari. AKU TIDAK SEPERTI YANTI! Dan yang aku tebalkan itu adalah pesan yang ingin aku sampaikan 


*Kata yang bercetak warna hijau adalah mungkin... perasaan kita selama di PAPB tercinta. Mungkin saja :)









Thanks,


Cindy Permata Putri

No comments:

Post a Comment