Monday, January 23, 2012

Sang Penghibur

Song by Padi


Setiap perkataan yang menjatuhkan 
Tak lagi kudengar dengan sungguh
Juga tutur kata yang mencela
Tak lagi ku cerna dalam jiwa


Aku bukanlah seorang yang mengerti
Tentang kelihaian membaca hati 
Ku hanya pemimpi kecil yang berangan
Tuk merubah nasibnya


Oh bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya
Yang sedih hatinya


Ku gerakkan langkah kaki
Di mana cinta akan bertumbuh
Ku layangkan jauh mata memandang
Tuk melanjutkan mimpi yang terputus


Masih ku coba mengejar rinduku
Meski peluh membasahi tanah
Lelah penat tak menghalangiku
Menemukan bahagia


Back to reff


Oh bukankah hidup ada perhentian
Tak harus kencang terus berlari
Kuhela kan nafas panjang 
Tuk siap berlari kembali
Melangkahkan kaki menuju cahaya


Bagai bintang yang bersinar menghibur yang lelah jiwanya
Bagai bintang yang berpijar menghibur yang sedih hatinya

Wednesday, January 18, 2012

Random ! #part 2

Pertama kali tujuanku untuk suka dan ingin menulis adalah ingin melampiaskan isi hati dan pikiran yang penuh belenggu (aku menggunakan istilah belenggu sejak dikenalkan di ESQ lalu lho hihi). Kadang bingung untuk menceritakan masalahku ke siapa. Cerita ke temen? Kalo kebanyakan ntar dibilang bawel. Nulis status fb / twitter? Ntar dikira nyampah dan lebay dan yang ada cuma dapet sindiran! Nulis di diary? Keamanan kurang terjamin. Akhirnya aku memutuskan untuk menyimpan cerita-cerita pribadi di dalam folder khusus di laptop yang aku kasih nama "My Story and My Life". Itulah kenapa blog ini aku kasih judul serupa.

Keinginan untuk membuat novel mulai muncul ketika aku baru aja tamat SD. Tadinya sih tujuannya buat mengenang masa-masa SD biar nggak lupa dan gampang dicari lagi. Tapi karena kesibukan di sekolah baru alias SMP membuat novel ini sempat terbelengkalai alias ditelantarkan. Novel ini akhirnya dilanjutkan kembali dengan 2 sesi. Sesi pertama untuk yang berhubungan dengan SD dan sesi kedua untuk yang berhubungan sama SMP. Alasannya karena udah lama nggak lanjut jadi bingung mau lanjutin gimana lagi akhirnya aku campur aja tapi tetep nyambung *mudah-mudahan.

Oya, ada cerita menarik kenapa novel ini sempet dilanjutin dan akhirnya selesai. Agak frontal dikit sih wkwkwk. Jadi gini, waktu kelas 7, pas itu lagi pelajaran bahasa arab. Dan waktu kelas 7 itu tempat favorit untuk duduk adalah barisan bagian belakang. Keadaan itu dimanfaatkan oleh teman sebangkuku untuk membaca novel. Emang nasib lagi apes apa gimana, temen sebangkuku ketauan sama guruku lagi baca novel! Terus apa hubungannya sama aku? Nah, saat itu lah guruku bilang "siapa tau salah satu dari siswa di sini membuat buku yang terinspirasi dari saya..." Kata-kata itu tadinya nggak berdampak buat aku. Tapi setelah dipikir lagi akhirnya aku memutuskan untuk membuat kelanjutan dari novel yang tidak hanya terinspirasi dari guruku aja tapi dari semua yang terjadi di sekolah. Akhirnya novel yang sampe sekarang masih berupa draft dan nggak bakal diterbitin aku kasih judul Syukran ya Asatidza! yang kalo diartiin artinya Terimakasih guru-guruku! Draft itu bisa diliat di sini :)




Kelanjutan posting ini bisa diliat di random-random berikutnya. See you! ;)


#Random2. Benar-benar random! 





With Love,


Cindy Permata Putri 





Sunday, January 15, 2012

Random ! #part 1

Udah beberapa minggu ini nggak ada inspirasi buat nulis posting di blog. Posting-posting sebelumnya kalian bisa lihat itu hasil dari re-blog. Kenapa? Gini, kalau kalian perhatiin posting-posting sebelum hasil re-blog me-re-blog itu kayaknya hampir semua tema sama. Mungkin menuju ke"envy"an haha. Nggak, ini serius. 

Dan udah beberapa minggu pula berusaha mencari pencerahan untuk nulis lagi. Tapi sepertinya writefobia itu muncul kembali. Entah apa yang membuatku seperti ini. Aku selalu takut untuk menghasilkan tulisan lagi. Aku takut salah lagi. Aku takut dimarahi lagi. Aku takut semuanya!

Mulai kemarin waktu akhir tahun 2011. Tepatnya tanggal 30-31 Desember, ada sebuah pencerahan baru (oh, iya, bagi galawers disarankan ikut pencerahan ini. Dijamin galau agak berkurang haha). Setelah mengikuti kegiatan bernama ESQ itu membuat aku ngerasa sedikit enteng dan memutuskan untuk move on. Sampai-sampai berani menyatakan bahwa 2012 adalah tahun anti galau! Hari-hari di sekolah kulewati dengan senyum lebar. Tidak terlintas di benakku sedikitpun tentang masalah di tahun lalu yang belum sepenuhnya selesai.

Tapi itu tak bertahan lama. Semua seakan kembali lagi menerpaku satu-persatu dan membuatku jatuh! Apa yang terjadi pada diriku? :'(

Kapan aku bisa move on sepenuhnya? Kapan aku bahagia seutuhnya? Kapan orang-orang tidak lagi menghalangi kebahagiaanku? 

#Random1. Benar-benar random!



With Love,


Cindy Permata Putri

Friday, January 6, 2012

Tanda Bahaya

Drama di bawah ini merupakan karya dari Bakdi Soemanto. Enjoy :D


Tampak Yanti seorang pelajar tengah duduk di salah satu meja itu. Ia menekuni sebuah buku pelajaran. Asdiarti, sahabatnya masuk. Waktu itu sudah hampir jam satu. Sekolah sudah selesai. Bahwa Yanti belum pulang, itulah yang menyebabkan Asdiarti terkejut


Asdiarti :. Kau masih di sini, Yanti. Belum pulang ?

Yanti : (Tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala dan terus melanjutkan membaca)

Asdiarti : (mendekat) Ada sesuatu?

Yanti : (Menggeleng)

Asdiarti : Aku mengerti persoalanmu sebenarnya, Yanti. Lebih baik kau mengatakan kepadaku persoalanmu. Kalau aku tahu persis duduk perkaramu mungkin aku bisa membantumu

Yanti : Aku mengerti, aku memang harus mengatakannya, tetapi aku tidak tahu dari mana dan bagaimana aku tahu memulainya

Asdiarti : Kenapa?

Yanti : Sangat ruwet

Asdiarti : Kau dipaksa kawin oleh orang tuamu?

Yanti : Antara lain itu, tetapi banyak lagi soalnya

Asdiarti : Aha?

Yanti : Ah, sudahlah. Sebaiknya kau tak usah memaksaku untuk mengatakannya. Sulit. Terlalu sulit

Asdiarti : Yah, aku tahu kau tidak kerasan di rumah

Yanti : (Memandang).

Asdiarti : Itu persoalan yang banyak kita rasakan bersama

Yanti : Kau juga mengalami hal seperti itu?

Asdiarti : Memang. Cuma persoalanku tidak seberat persoalanmu. Aku selalu menghibur diri dengan cara pergi dengan teman-teman pria kalau hari Minggu

Yanti : Dulu aku mencoba demikian, tetapi kalau aku pergi, sesudah sampai di rumah aku mengalami peristiwa yang sama, bahkan terasa lebih berat. Maka, aku menghentikan semua itu

Asdiarti : Tetapi, kita harus menghibur diri, Yanti

Yanti : Lebih dari itu, aku ingin menyelesaikan persoalan. Cara seperti itu tidak menyelesaikan persoalan. Itu bahkan menyiksa. Makin menyiksa

Asdiarti : Lalu, mesti gimana?

Yanti : Aku tidak mengerti

Asdiarti : Tidak mengerti

Yanti : Itulah yang menyedihkan. Kita mengalami sesuatu, tetapi kita tak mengerti bagaimana memahami pengalaman itu sendiri

Asdiarti : (Tersenyum).

Yanti : Kau tersenyum mengejekku?

Asdiarti : Kau tidak tahu, Yanti, bahwa kau sebenarnya gelisah bukan ? Aku juga gelisah. Nah...

Yanti : Benar. Kupikir, kita ini mau apa? Setelah sekolah ini, lalu kita akan melanjutkan sekolah lagi. Barangkali hanya satu atau dua tahun. Paling banter tiga tahun sudah itu kita dipinang orang. Kita menjadi seorang ibu...Apa artinya semua pelajaran yang kita terima selama ini

Asdiarti : Nah... (Tersenyum).

Yanti : Kita mempersiapkan diri kita untuk menjadi sesuatu yang tidak ada artinya

Asdiarti : Maksudmu?

Yanti : Menjadi istri dan ibu. Apa artinya itu? Apa pula hubungannya dengan sekolah kita tempuh selama ini?

Asdiarti : Makanya kita gelisah karena sebenarnya kita tak pernah mengerti nasib kita yang akan datang

Yanti : Dan persoalan yang kita hadapi itu, tidak bisa dipecahkan dengan ilmu pengetahuan yang kita terima di sekolah sekarang ini

Asdiarti : Kau mau? (Mengeluarkan sebatang rokok).

Yanti : Apa ini?

Asdiarti : Bawalah kalau kau mau. Kau akan memperoleh ketenangan

Yanti : (Menerima lalu meletakkannya di atas meja).

Asdiarti : Ambillah simpan di tasmu. Jangan sampai kelihatan guru

Yanti : (Memandang dengan penuh keheranan).

Asdiarti : Kalau kau tak mau, biarlah ku simpan sendiri. Ini cukup mahal. Kau bisa datang ke rumahku kalau kau mau. Nanti Antok, Yusman, dan Joko akan datang untuk menjemput aku pergi...”

Yanti : (Berdiri) Pergi ke mana?

Asdiarti : Pergi ke suatu tempat pokoknya... sip. deh

Yanti : Ku mendengar dari Ketiek, kesenanganmu pergi ke tempat-tempat itu!

Asdiarti : Berdosa?

Yanti : Bukan

Asdiarti : Maksiat

Yanti : Bukan

Asdiarti : Itulah dunia muda masa kini

Yanti : Barangkali benar

Asdiarti : Nah...akhirnya kau menerima juga, toh

Yanti : Tapi mengapa harus begitu? Itu berbahaya bagi kesehatan. Kita masih sangat muda. Bayangkan kalau masa remaja kita habiskan dengan cara-cara itu, nanti tua kita dapat apa? Lagipula, tujuanmu mencari kebebasan, kok, dengan menempuh jalan itu? Apakah sebenarnya kau telah membuat dirimu diperbudak kembali oleh kebiasaanmu itu?

Asdiarti : Aku tak mengerti omonganmu, Yanti. Kalau kau tak mau, tak usah bertele-tele menasehatiku

Yanti : (Diam).

Asdiarti : Baiklah. Kau pulang tidak? Itu Kusni, Surti sudah menunggu di luar. Kalau tidak pulang, aku pulang duluan...dan kalau kau mau, ku tunggu nanti sore di rumahku.

Yanti : Kenapa kau takut ketahuan guru kita?

Asdiarti : Karena mereka akan marah. Merampas dan menyetrap kita

Yanti : Kau tahu sebabnya?

Asdiarti : Nggak. Mereka orang tua yang kolot seperti orang tua kita saja

Yanti : Itu berbahaya. Obat bius dilarang diedarkan secara bebas

Asdiarti : Tapi mereka toh tak sanggup menyelesaikan kegelisahanku. Sedikit-sedikit bilang dosa, maksiat, porno, huh!

Kusni : Astaga. Ngapain, nih, kalian di sini? Ku tunggu di luar sampai lama banget

Asdiarti : Mau nolong Yanti. Akibatnya malah dapat kuliah

Surti : Pantesan. Habis cita-cita Yanti mau jadi dosen

Yanti : Aku memperingati Asdiarti bahaya main-main rokok begituan

Surti : Sudahlah. Mari kita pulang saja. Ini sudah jam setengah dua. Sebentar lagi kelas ini dipakai anak–anak sore

Yanti : Pulanglah dulu kalau kalian mau pulang. Aku butuh belajar...

Surti : Aaahh...kau menunggu Pak Lukas? (Surti, Asdiarti, Kusni, tertawa bersama).

Yanti : Pergi!

Kusni: Yanti, aku mencintaimu, boleh?

Yanti: (mengangguk)

Kusni: Kenapa kita harus bertengkar. Kita bersahabat, bukan?

Yanti: (merebahkan kepala ke meja)

Kusni: Sebenarnya kau tak usah melanjutkan hubungan dengan Pak Lukas. Apa, sih, untungnya. Paling kau hanya memperoleh nasihat-nasihat saja. Nasihat tidak akan menyelesaikan persoalanmu. Keuntungannya hanya muak, mual…

Yanti: Barangkali benar. Tapi, aku membutuhkan nasihat-nasihat itu. Aku memerlukan guru yang tidak cuma pandai mengajar, tetapi juga memperhatikan diriku. Aku butuh bimbingan.

Kusni: Tetapi sebagai akibatnya, istrinya menjadi cemburu kepadamu. Bukankah itu merusak rumah tangganya?

Yanti: Aku tahu. Itulah yang kusedihkan. Tapi, aku memang membutuhkan dia…

Kusni: Memang aku sebenarnya juga

Yanti: Dulu kuharapkan Bu Sri mau mengerti persoalanku. Tapi, ia malah marah melulu

Asdiarti : Sekolah ini memang konyol

Yanti : Sekolah ini tidak salah. Tapi kita yang salah. Kita terlalu menuntut banyak

Kusni : Kita membutuhkan sesuatu di sekolah ini kalau sesuatu yang kita butuhkan tidak kita temukan di rumah

Asdiarti: Sesuatu itu apa?

Kusni Aku tak mengerti

Asdiarti: Barangkali… (tersenyum) semacam kehangatan

Yanti : Ya, tepat

Kusni : Sukar sekali

Yanti : Sedih bukan?

Asdiarti : Ya, kehangatan… bukan mimpi-mimpi, bukan pelarian (mengambil rokok lalu membuang)

Kusni: Agar kita betah di sekolah, tapi apa itu mungkin....?

Yanti : Sedih sekali

Asdiarti : (Berjalan mau mengambil rokok yang sudah dibuang)

Yanti : Biar guru-guru kita mengerti, inilah dunia kita yang sebenarnya

Asdiarti : Tapi aku akan dimarahi lagi

Yanti : Akulah yang akan bilang bahwa aku yang membawa rokok itu

Asdiarti : Yanti!

Yanti : Aku mau tahu, sesudah marah, guru-guru kita lalu berbuat apa pada kita

Kusni : Aku akan ikut dimarahi, Yanti. Ayo, ambil, Asdi!

Yanti : Jangan!

Surti : Kau jangan aneh-aneh, Yanti. Kalau kita dikelurkan bagaimana...?

Yanti : “Percayalah. Guru-guru kita perlu mengerti apa yang kita pikirkan, kita butuhkan, kita gelisahkan setiap hari....agar mereka tidak sekedar menempa kita dengan rumus-rumus yang harus kita hafal melulu...” (Yanti pergi yang lain menatap terus mengikuti perginya).

Asdiarti : “Yanti.., Yanti tunggu...”






Keterangan:
*Kata yang bercetak warna orange adalah yang selalu kualami setiap hari. AKU TIDAK SEPERTI YANTI! Dan yang aku tebalkan itu adalah pesan yang ingin aku sampaikan 


*Kata yang bercetak warna hijau adalah mungkin... perasaan kita selama di PAPB tercinta. Mungkin saja :)









Thanks,


Cindy Permata Putri