Bertahun-tahun kau lakukan hal yang sama, selalu, hampir setiap saat. Tapi bertahun-tahun lalu aku tak pernah mempersoalkan yang kau lakukan. Baru beberapa bulan belakangan aku mulai berpikir, apakah aku harus selalu mengalah dan jadi yang kau persalahkan? Apakah semua ini nantinya aku menjadi lemah karena terlalu baik dalam menerima segala bentuk keegoisan dan keserakahan? Kurasa iya, kurasa tidak.
Selama ini, aku selalu memaklumi keadaan, ya, atas nama maklum.
"Maklumlah dia kan...."
"Maklumlah dia kan...."
"Maklumlah dia sedang..."
Apakah aku harus selalu tunduk, menoleransi atas itu semua?
Apakah kamu tak pernah berpikir bahwa aku masih punya hati, memang enak harus rela disalahkan (padahal aku takpernah melakukan yang kau tuduhkan)? Sekali lagi, atas nama maklum, begitu?
Atas nama keadaan yang membuat aku harus maklum itulah aku harus bisa menyikapi kewenanganmu. Tapi, hei, bisakah kau menyikapi itu dengan bijak? Bisakah kau tak memanfaatkan keadaanmu?
Aku bukannya lelah untuk mengalah, aku hanya minta dihargai. Aku juga ingin kaudengar. Tak hanya kau lihat, karena kau selalu mengatakan yang kaulihat.