Tak
terasa tiga semester kuliah di psikologi hampir selesai ku lalui.
Kuliah tak seperti sekolah, itu benar. Banyak hal baru yang ku temui di
sana. Dari sekian banyak hal baru itu, ada satu yang paling mengganggu
pikiranku sejak semester pertama, yaitu, go out from your comfort zone atau keluar dari zona nyamanmu.
Keluar
dari zona nyaman? Bagaimana bisa? Bukankah suasana nyaman adalah
situasi yang menyenangkan? Mengapa harus keluar? Banyak yang bilang,
zona nyaman adalah zona yang paling berbahaya. Membuatku semakin tidak
paham. Hal itu dikatakan berkali-kali, mungkin setiap rangkaian acara
wajib dari universitas maupun fakultas semuanya berkata begitu. Ospek,
acara pengabdian fakultas, hingga PPKM, semua pembimbing/trainer berkata
begitu.
Sampai
suatu ketika, sesuatu terjadi padaku. Aku sendiri juga tidak tahu, apa
yang aku alami dan rasakan sebenarnya. Seseorang datang padaku (lebih
tepatnya, aku yang datang), dia datang bersama (aku harap) penyelesaian
atas apa yang aku alami. Jawabannya adalah: keluar dari zona nyamanmu.
Dari
sekian banyak orang yang mengatakan hal yang sama padaku, entah kenapa
aku merasa yang dikatakannya adalah yang paling benar dan bisa
dipercaya. Padahal mereka dulu juga berkata begitu.
Sejak
hari itu, aku berusaha semaksimal mungkin untuk keluar dari zona
nyamanku. Ini sangat sulit. Tapi berbahaya jika terus ku pertahankan.
Dalam
hati kecilku, terkadang semua itu bertentangan denganku. Ada satu titik
saat aku merasa yang aku lakukan terasa menyiksaku dengan tidak menjadi
diriku sendiri, dimana aku merasa, aku melakukannya bukan untuk diriku.
Ada kalanya aku ingin menangis selama mungkin yang aku mau karena aku
rasa ini tidak baik bagiku.
Tapi,
aku sadar. Aku tidak sendiri. Orang-orang yang aku sayangi "ikut"
membantuku untuk keluar dari sana. Aku sangat-sangat bersyukur bisa
bertemu mereka. Aku harap mereka akan terus seperti ini, selalu ada
untuk menarikku keluar dari sana.
Because it's only the way, right?
