“Jangan takut, ada aku di sini, Alika.
Sudah jangan menangis!” suara itu mengejutkan aku. Dia datang sembari menghapus
air mata di pipiku.
“Terima kasih, Tria! Kamu nggak
pulang?” tanyaku.
“Aku juga nunggu hujan reda,”
katanya.
“Kenapa kamu baru ke sini?” tanyaku
lagi.
“Aku tadi masih mengurus mading
kelas,”
“Sendirian?”
“Ya, begitulah. Oh, ya, kenapa tadi
kamu nangis?”
“Hmm… aku takut. Aku kirain tadi
nggak ada orang, hehe” kataku tersipu malu.
“Kan masih ada aku, hahaha” candanya.
“Ah kamu ini bisa aja,”
Tiba-tiba, dia menghilang, entah ke
mana dia. Aku mencari-cari namun tak kudapati dirinya. Kamu di mana? Sejenak
aku berpikir, kemudian aku tersadar bahwa orang itu hanyalah bayanganmu aja!
Aku baru inget kalo kamu udah dipanggil Tuhan 2 minggu yang lalu.
Setiap kali hujan, aku selalu
teringat saat-saat itu. Di mana kamu menghibur aku saat sedih, tenangkan hatiku
ketika galau dan gundah, dan hapus air mataku tiap kali menetes. Namun kini
sosok itu telah menghilang. Aku berusaha mencari tapi selama aku mencari tak
pernah kutemukan sosok sepertimu. Kamu ke mana?
Aku masih ingat ketika ada seseorang
memberitahuku bahwa Tria telah tiada. Katanya, dia meninggal dunia akibat
kanker hati yang dideritanya sudah mencapai stadium akhir. Setelah orang itu
memberitahuku aku langsung menuju rumah sakit tempat dia dirawat.
Aku menangis sejadi-jadinya. Aku
menyesal tak menepati janjiku pada Tria untuk melindunginya. Aku bahkan tak
pernah tahu bahwa Tria mengidap penyakit yang membuat belahan jiwaku pergi
untuk selama-lamanya.
Hujan yang tadinya memberikan
kenangan indah dan menjadi penenang hati kini menjadi penanda suasana duka dan
hujan mewakili hatiku yang muram durja. Hujan kini juga menjadi sesuatu yang
jahat bagiku. Ia mengambil belahan jiwaku. Hujan, kembalikan belahan jiwaku.
Jangan ambil belahan jiwaku!
Namun aku tersadar bahwa ini semua
adalah kehendak Tuhan. Tidak ada yang pernah menginginkan seseorang yang
dicintainya pergi. Namun jika Tuhan menghendaki maka terjadilah…
Mungkin suatu saat nanti, akan ada
seseorang yang menggantikan posisi Tria di hatiku. Aku yakin, Tuhan selalu
mempunyai rencana yang indah dibalik semua ini. Dan aku yakin, setelah
kesusahan pasti akan ada kemudahan. Aku janji takkan menangisi Tria lagi. Aku
harus kuat!
Hari demi hari berganti, hujan yang deras
kembali turun dan aku terjebak kembali. Aku berusaha menahan tangis. Aku coba
lupakan semua tentang Tria. Aku harus bertahan. Aku tak boleh terus-menerus
terbelenggu dalam kesedihan. Kini, aku mencoba bahagia dengan pengganti Tria.
Aku tahu Tria akan senang melihat aku bersinar kembali.
Inspired by Menari di Antara Gerimis

No comments:
Post a Comment