Senin itu, 14 November 2011...
Hari itu, hari pertama TO putaran kedua. Mapel pertama bahasa Indonesia. Ku akui, soal TO kedua ini lebih mudah dibanding dengan TO sebelumnya. Aku berharap semoga diberi kemudahan di TO berikutnya. #Amin
Saat mengerjakan soal bahasa Indonesia itu, di paket A banyak soal kata-kata sederhana tapi maknanya sesuatu. Kayak nomer 35 pilihan C yang berbunyi "Angin malam sampaikan salamku kepadanya" (Eh bukan itu tau jawabannya!). Pokoknya banyak deh soal-soal di paket A yang kata-katanya sesuatu. Sampe di nomor 44 yang berbunyi :
Senin, 27 Januari 2011
Hari ini Kezia kesal sekali. Sangat kesal. Pak Agus amat marah kepadanya. Padahal PR matematika yang tidak dikerjakan hanya 2 nomor. Delapan nomor lainnya selesai dengan baik dan tak ada satupun yang salah. Tidak biasanya guru yang diidolakannya itu memarahinya dengan kasar hanya karena persoalan 2 nomor PR yang tidak diselesaikan itu. Ia tidak habis pikir mengapa Pak Agus begitu marah padanya. Ia gelisah memikirkan bagaimana agar kepercayaan Pak Agus bisa kembail padanya. Ia sedih, sangat sedih.
Nah kira-kira begitulah inti soalnya. Enggak tau deh kata-katanya bener gitu apa enggak. Eh, yang penting coba kamu liat bagian yang aku tebelin deh. Bagi orang biasa, itu cuma sebuah kata-kata. Bagi aku, kata-kata itu... walaupun aku tidak mengalaminya, tapi aku merasa mengalaminya. Tanya kenapa....
Tapi dengan membaca soal itu, aku jadi merasa bertanggungjawab untuk menjaga kepercayaan yang diberikan kepadaku, khususnya yang kita lagi bahas di sini, guru :)
Gampang-gampang susah menjaga kepercayaan seseorang. Sedikit disalahgunakan, orang itu menjadi membenci kita dan tentunya mencabut kepercayaan itu.
Setelah membaca soal itu, aku jadi merasa tidak tenang di dalam ruang TO itu. Yang lainnya pada tidur enak-enak di kursi sedangkan aku sibuk bolak-balik kertas soal yang padahal nggak dibaca. Aku gelisah! Aku jadi berpikir tentang kata-kata tadi, yang terngiang terus di benakku. Entah pikiranku jadi melayang-layang jauh ke sana kemari. Tiba-tiba, otakku memflashback waktu aku kelas 3 SD dulu. Waktu aku masih awam banget sama bahasa Arab. Waktu aku pertama kali dapet mapel bahasa Arab. Tiba-tiba juga aku inget sama guru bahasa Arab pertamaku dulu, kosakata pertama, hingga akhirnya tiba pada hari itu. Saat pagi harinya ada ulangan bahasa Arab (jujur, agak susah -_-v), nggak kerasa saat itu aku udah banyak belajar banyak kosakata dan.... ah udah, udah! ini malah nostalgia! Udah cukup yaa buat orang geer-nya #satire time.
Mendadak perasaan itu muncul kembali, perasaan bersalah yang menjadi-jadi. Selalu kutanyakan dan tak pernah terjawab pertanyaan ini: "Salahkah aku mengagumi seseorang yang ku kagumi?"
Sampai sekarang aku tak pernah tahu kapan aku mendapat jawaban yang pasti atas pertanyaan tadi. Kalau aku turuti orang lain, pasti jawaban mereka beda-beda. 50 % menjawab SALAH 50 % lagi jawab NGGAK SALAH. Nah, galau nggak tuh! u,u
Kalau turuti kata hati sendiri, sudah pasti jawabannya NGGAK SALAH. Jadi diri sendiri memang menyenangkan, tak ada keganjalan, semuanya sesuai diri sendiri. Namun jika aku tak mendengarkan apa kata mereka, rasa bersalah itu muncul kembali. Bagaimana aku seharusnya? Apapun itu, aku tetap mengagumi seseorang yang aku kagumi. Entah sampai kapan. Tapi yang pasti, aku lebih nyaman jadi diri sendiri, tanpa harus dengarkan hinaan dan sindiran mereka.
Ini hanya makna dari sebutir soal, yang hanya rangkaian kata-kata sederhana, namun bisa didalami, rasakan maknanya, dan petik hikmahnya :)
With Love,
Cindy Permata Putri ♡
No comments:
Post a Comment