“Iya, Bu. Aku bangun..” jawabku.
Aku melihat jam dinding di kamarku. Setengah tujuh! Aku pun bergegas mandi. Setelah itu aku sarapan dan berangkat ke sekolahku tercinta, SMP Harapan Bangsa.
Oh, iya, kenalin, namaku Rhea Putri Maylisa. Panggil aja Rhea. Aku adalah siswi kelas IX A SMP Harapan Bangsa. Aku adalah anak yang gampang merasakan galau. Liat kecoak aja langsung galau. Tapi meskipun aku anak penggalau, aku termasuk orang yang murah senyum. Aku anak ketiga dari tiga bersaudara alias anak bungsu. Meski begitu, aku bukan anak manja karena aku emang nggak suka dimanja-manjain.
Di sekolah juga nggak terlalu pinter. Nggak ada prestasi yang menonjol, biasa-biasa aja deh. Mapel yang jadi favoritku adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pokoknya, yang semacem bahasa gitu lah, dan mapel yang paling aku benci adalah sejarah, bikin ngantuk! Hehe. Karena pada dasarnya aku nggak suka kebosanan.
Oh, iya, kalau pengin lebih mengenal aku lebih jauh, hubungi warnet terdekat (apa hubungannya coba?) !
***
Teeeet...
Bel tanda istirahat selesai telah berbunyi. Karena jam ini adalah waktunya mapel Sejarah yang paling aku dan Vinca benci, aku dan Vinca santai saja, nggak segera masuk kelas. Aku malah makan-makan di luar. Saking santainya, aku nggak perhatiin apa Pak Amir, guru sejarah udah masuk kelas atau belum. Kami baru sadar ketika teras kelas udah sepi. Jangan-jangan Pak Amir udah masuk lagi! Kami pun segera menuju ke kelas. Ternyata yang kami takutkan terjadi, Pak Amir udah masuk kelas. Pak Amir pun langsung Indonesia Raya.
“Rhea! Vinca! Sudah berapa kali kalian terlambat masuk ke kelas saya!? Sekarang, kalian tidak boleh mengikuti pelajaran saya!”
“Tapi, Pak...”
“Nggak ada tapi-tapian! Kalian udah sering terlambat jadi lebih baik kalian tak usah ikut pelajaran saya!” bentak Pak Amir sambil menutup pintu kelas dengan keras. Terpaksalah kami di luar kelas.
Itulah sebabnya aku paling benci sama yang namanya mapel sejarah. Udah bosenin, bikin ngantuk, gurunya killer pula! Makanya kami sering banget terlambat di mapel yang satu ini.
Nggak cuma terlambat di mapelnya beliau aja. Aku ini tergolong murid telatan alias suka terlambat masuk sekolah dan lagi-lagi yang menghukum adalah Pak Amir. Nggak tanggung-tanggung, Pak Amir sampe bosen ngladenin aku melulu. Daftar keterlambatanku selama satu bulan aja udah ngalahin struk belanjaan. Sering banget telat deh. Yah, namanya juga murid teladan, eh, telatan maksudnya. Hihi
Kembali ke Pak Amir. Pak Amir adalah guru paling nyebelin sedunia. Untuk sekedar ngasih salam ke Pak Amir rasanya aja udah males. Liat wajahnya? Apalagi! Kumisnya bak ujung tanduk itu biikin serem yang ngeliatnya. Pokoknya, kalau ketemu guru yang satu itu bawaannya jengkel deh! Dendam rupanya sudah tertanam dalam hati ini. Hahaha.
***
Akhir-akhir ini, aku ngerasa aneh banget. Terutama pas pelajaran sejarah. Aku ngerasa jadi lebih giat ngikutin pelajaran yang bikin bosen ini. Intinya, aku sekarang jadi suka pelajaran sejarah, dan nggak tahu kenapa aku jadi suka sama cara ngajarnya Pak Amir! Entah karena aku yang berubah atau Pak Amir, aku nggak tahu. Yang jelas sejarah jadi mapel favoritku sekarang. Kayaknya sekarang aku dah bisa lihat sisi baiknya Pak Amir yang ternyata nggak seserem wajahnya. Kalau di luar jam ngajar, Pak Amir ternyata nggak segalak kalau lagi ngajar di kelas. Enak banget kalau diajak ngobrol, asyik deh! Ternyata bener kata pepatah, jangan liat buku dari sampulnya. Artinya, jangan liat orang dari luarnya aja! Siapa tahu dalemnya baik.
Terus Pak Amir itu juga bijaksana. Kupikir, sifat bijaksana hanya bisa kutemui dalam dongeng karena seumur hidupku, aku tak pernah melihat orang yang benar-benar mempunyai sifat seperti itu. Sifat atau watak bijaksana biasanya banyak digunakan untuk menggambarkan tokoh dongeng seperti raja atau pemimpin (maklum nggak pernah liat orang bijaksana). Aku sangat menggemari orang seperti itu nggak tahu kenapa.
Suatu hari, Pak Amir izin nggak ngajar. Katanya sih sakit. Nggak tahu kenapa kok jadi ngerasa kehilangan gini. Pokoknya, sekarang rasanya hampa tanpa sejarah. Aku pun berdoa dalam hati mudah-mudahan Pak Amir cepet sembuh. Amin.
***
Langit seakan gambarkan suasana hati murid-murid di sekolahku. Kami telah kehilangan salah satu guru terbaik kami. Kami tak sanggup untuk melepasnya sekarang. Apalagi ini tahun terakhir di sekolahku
"Maafkan saya, saya sudah tidak bisa mengajar lagi..." kata beliau sambil memegangi bagian perut bawah sebelah kanan. Tunggu.. perut bagian bawah sebelah kanan? Itu kan hati..? Jadi itukah sebabnya beliau tak bisa mengajar lagi disini?
"Jangan pergi.. tetaplah mengajar disini.." kata kami sambil menangis sesenggukan.
"Sekali lagi saya minta maaf, saya benar-benar harus pergi. Saya tidak bisa mengajar lagi.."
“Kamu kenapa, Rhea? Bangun tidur kok nangis?” tanya ibuku. Aku baru sadar kalau kejadian mengharuka tadi hanyalah mimpi buruk di sore. Tentu saja aku tak mampu menjawab pertanyaan ibuku. Aku terus menangis.
“Sudahlah, Sayang. Itu kan hanya mimpi buruk. Makanya, kalau mau tidur berdoa dulu!”
“Iya, baik, Bu!”
“Nah, sudah jam setengah lima. Ayo sana mandi dulu!” perintah Ibu. Aku pun segera menuju ke kamar mandi
***
Mentari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya, namun aku sudah terbangun dari mimpi indahku. Mulai hari ini, aku akan bangun lebih awal agar tidak terlambat ke sekolah. Nggak tau kenapa hari ini ceria banget. Rasanya semangatku lagi tinggu. Aku udah nggak sabar sampe di sekolah
Tiba di sekolah, aku segera menuju ke ruang guru dan mencari Pak Amir. Namun ternyata Pak Amir belum datang. Aku pun menunggunya.
Tak lama kemudian, Pak Amir pun datang aku pun langsung menyapanya sembari mencium tangannya. “Assalamualaikum, Pak!”
“Waalaikumussalam, Rhea! Wah, tumben kamu datang lebih awal. Bagus itu Rhea. Ingat, jangan hanya hari ini, tapi untuk seterusnya. Apalagi kamu sudah kelas sembilan!” ujar Pak Amir.
“Iya, Pak. Saya janji nggak akan terlambat lagi!” kataku, “Oh, iya, Pak. Boleh saya menyampaikan sesuatu pada Bapak?”
“Boleh, apa itu?”
“Begini, Pak, saya mau minta maaf sama Pak Amir. Selama ini, saya selalu bertingkah yang kurang baik. Maafkan saya, Pak. Saya janji akan lebih baik lagi!”
“Tidak apa-apa, Rhea. Bapak sudah memaafkan kamu. Yang penting kamu mau berubah!”
“Ya, baik, Pak!”
Setelah itu, aku menjadi rajin. Sekolah tidak pernah terlambat, rajin mengerjakan tugas, rajin belajar, nilai meningkat, dan yang paling penting, aku telah berubah.
No comments:
Post a Comment