Tuesday, December 20, 2016

My Sunshine After The Rain


Sedikit aneh memang. Biasanya setiap tanggal 20 Desember, aku selalu menuliskan apapun tentang 20 Desember enam tahun silam. Memang, di posting 20 Desember yang terakhir, aku menuliskan bahwa tulisan itu adalah part flashback yang terakhir. Jadi aku memang takkan menulis tentang enam tahun silam.

Tadi malam, saat pergantian hari dari 19 Desember ke 20 Desember, aku merasa aku ingat semua kejadian-kejadian yang aku alami. Namun emosi yang aku rasakan saat ingat ini: TIDAK ADA.

Jantungku tidak berdebar. Aku tak lagi berkeringat dingin. Aku tidak tahu, apakah aku harus senang atau sedih karena merasa seperti ini. Semalam, aku tidak bermimpi tentang seseorang di 20 Desember 2010, aku memimpikan yang lain. Aku memimpikan seseorang yang akan aku bahas di posting ini. Cerita dalam mimpi itu sama, kehilangan. Tapi bukan orang yang biasanya. Bukan.



The other night, dear, was I lay sleeping. I dreamt I held you in my arms. When I awoke, dear, I was mistaken. So, I hung my head, and I cried.


Seseorang yang ada di mimpiku tadi malam. Aku tak bisa bilang bahwa dia adalah orang "baru" yang menciptakan senyum di bibirku. Tapi dia keren. Aku menyebutnya sang hujan sehari penghapus kemarau bertahun-tahun, atau terkadang aku menyebutnya cahaya matahariku setelah hujan. Oh, ada lagi, barusan terlintas di pikiranku, pelangi yang muncul setelah hujan.

Dia benar-benar datang di waktu yang tepat, saat badai menerpaku bertahun-tahun, dia datang bagai cahaya matahari saat badai reda, membantuku untuk memunculkan pelangi dalam hatiku sendiri. Memang, dia menunjukkan bahwa senang dan sedih berasal dariku sendiri. Tetap saja, jika dia tidak ada, aku takkan jadi yang sekarang.

Aku teringat, pertemuan pertama, bahkan sebelum bertemu dengannya, entah mengapa aku sangat membencinya. Melihat wajahnya saja sudah malas. Aku tidak mengerti, seseorang yang tak pernah terbayangkan untuk mengenalnya, dia mengenalku, tahu semua tentangku datang dengan melalui proses yang sampai sekarang aku tak paham, menjadi salah satu yang aku bahas dalam percakapan sehari-hari.



Di saat aku sedang menikmati hari-hari bahagia karenanya, entah mengapa, di suatu hari, aku merasa sangat sedih karena pertemuan kita terasa sangat singkat. Aku benar-benar takut, setelah hari itu, aku takkan bertemu dengannya lagi. Jika pun bertemu, pasti takkan seperti sebelum-sebelumnya, situasinya akan berbeda. Mungkin kita tak lagi saling sapa dan tertawa bersama. 

Aku pernah menaruh harapan padanya, untuk selalu bisa bersikap baik denganku. Karena itulah, aku harus siap kecewa. Karena pengharapan sebagian besar akan mengecewakan.

Sebenarnya, aku sedikit heran. Dia tahu, aku menggelisahkan hal ini padanya. Tapi dia bilang, dia tak seperti itu, malah dia bilang aku sudah berpikiran negatif mengenai dirinya. Tak seharusnya aku seperti itu. Entah darimana rasa takut ini datang. Apakah aku telah takut kehilangan?

Untuk cahaya matahariku setelah hujan.
Untuk hujan sehariku setelah kemarau bertahun-tahun.

Unruk pelangiku setelah hujan.
Aku ucapkan beribu terima kasih, telah menjadi salah satu orang yang memberikan perubahan besar padaku. Yang telah memberikan aku penguat dalam bentuk apapun. Aku juga akan mengucapkan maaf. Maaf jika aku telah menyusahkanmu selama ini, telah menyita waktumu, belum bisa membalas budi baikmu.

Aku tak pernah berharap untuk kehilangan semuanya, Aku ingin melakukan apapun agar tak ada yang berubah. Tetap seperti ini. 

2 comments: