Sunday, October 5, 2014

05 Oktober 2009: Yang Kelima.

Tidak terasa ya, sudah 5 Oktober yang kelima. Lima Oktober kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Memang setiap tahun punya kisahnya sendiri. Tapi entah mengapa lima oktober kali ini benar-benar berbeda.

Kebetulan, lima oktober kali ini bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Bisa pas gini ya? Inget banget Idul Adha 4 tahun yang lalu, di mana saat itu terjadi. Di mana kau harus kupegang erat. Di mana kau tak kuizinkan untuk pergi...

Kini, entah mengapa sejak lima Oktober yang kelima ini, aku jadi sangat ingin menjagamu. Benar-benar tak kuizinkan untuk pergi. Aku lebih menghargai hadirmu. Meski kita tak berada di satu tempat seperti lima tahun yang lalu, jarak ratusan meter yang memisahkan kita. Meski tingkahmu kadang membuatku sakit. Tapi sungguh, aku benar-benar takizinkan kamu untuk pergi! 

Entah, aku kehabisan kata untuk mendeskripsikan lima Oktober kelima ini. 
Karena pagi itu duka. Sangat sedih. 
Pokoknya, kamu benar tak kuizinkan pergi!
Jangan!

Aku sudah kehilangan.
Aku pernah (merasa) kehilangan.
Aku baru saja kehilangan.
Benar-benar kehilangan

Jangan kamu, jangan. 
Tolong. Jangan. Pergi.





Selamat Lima Oktober kelima.
I'm afraid to lose you more than this post.



 With Love,


Cindy Permata Putri


Related Post:

Wednesday, July 2, 2014

Bukankah Kita Harus menjadi Apa Adanya?

Beberapa hari yang lalu, keluarga saya mengajak untuk menunaikan ibadah salat Tarawih di salah satu masjid yang jauh dari rumah. Masjid itu terletak didekat SMP saya dulu. Entah mengapa saya merasa senang. Saya seperti "pulang ke rumah" setelah merantau jauh. Ada rasa rindu yang sangat dalam ketika itu.
Namun, entah mengapa ada rasa takut yang menjadi-jadi. Takut kembali mengulang masa lalu. Takut terlarut lagi dengan masa lalu. Saya tidak mau!
Kemudian, rasa takut saya berubah menjadi bahagia bercampur haru ketika saya bertemu dengan teman seangkatan saya ketika SMP. Kami menceritakan masa-masa kami ketika SMP dulu. Kami tertawa bersama seperti 2 tahun yang lalu, dan ada rasa bahagia yang sudah lama tak saya rasakan selama 2 tahun.
Ketika perjalanan pulang, saya menjadi berpikir dan bertanya, ke mana saja saya selama ini? Saya merasa tidak menjadi diri saya sendiri selama ini. Tidak tertawa-tawa dan menangis-nangis seperti apa adanya saya.
Apa mungkin saya masih belum siap menghadapi hal baru?
Apa saya bisa menjadi apa adanya saya dan menghadapi hal yang baru?

Wednesday, April 16, 2014

Atas Nama Keadaan

Bertahun-tahun kau lakukan hal yang sama, selalu, hampir setiap saat. Tapi bertahun-tahun lalu aku tak pernah mempersoalkan yang kau lakukan. Baru beberapa bulan belakangan aku mulai berpikir, apakah aku harus selalu mengalah dan jadi yang kau persalahkan? Apakah semua ini nantinya aku menjadi lemah karena terlalu baik dalam menerima segala bentuk keegoisan dan keserakahan? Kurasa iya, kurasa tidak.
Selama ini, aku selalu memaklumi keadaan, ya, atas nama maklum.
"Maklumlah dia kan...."
"Maklumlah dia sedang..."
Apakah aku harus selalu tunduk, menoleransi atas itu semua?
Apakah kamu tak pernah berpikir bahwa aku masih punya hati, memang enak harus rela disalahkan (padahal aku takpernah melakukan yang kau tuduhkan)? Sekali lagi, atas nama maklum, begitu?
Atas nama keadaan yang membuat aku harus maklum itulah aku harus bisa menyikapi kewenanganmu. Tapi, hei, bisakah kau menyikapi itu dengan bijak? Bisakah kau tak memanfaatkan keadaanmu?
Aku bukannya lelah untuk mengalah, aku hanya minta dihargai. Aku juga ingin kaudengar. Tak hanya kau lihat, karena kau selalu mengatakan yang kaulihat.