Wednesday, December 21, 2016

My Rain Which Remove The Dry

Let me tell you a story about my rain.
My rain which remove the dry in my heart.






Di usiaku yang menjelang kepala dua ini, aku merasakan hal-hal yang aku pikirkan semakin kompleks. Pertanyaan yang sering aku ajukan adalah "mengapa?" atau "apa alasan hal ini bisa terjadi?". Semakin banyak muncul pertanyaan 'mengapa' di pikiranku membuat hatiku terasa gersang. Aku tidak bisa merasakan emosi yang ada saat aku menghadapi hal-hal yang harusnya membuat aku senang. Aku menyebut hatiku sedang ada di musim kemarau.

Kemarau itu sangat panjang, bertahun-tahun lamanya tanpa ada hujan sedetik pun. Aku mulai memohon agar diturunkan hujan yang sangat lama untuk membasahi tanah-tanah di hati yang sudah mulai pecah-pecah karena lama tidak tersiram air.

Suatu hari, aku melihat awan mendung, yang itu artinya, sebentar lagi turun hujan. Ternyata, awan itu hanya menyambarkan petir-petir saja! Awan itu membuat aku makin muak. Sementara sang matahari makin panas suhunya.

Tapi, aku merasa tak ada pilihan lain selain memohon hujan pada awan yang kubenci itu. Karena aku merasa, sudah tak ada pilihan lain, dan awan itulah yang hanya mau memberi hujan di hatiku.

Akhirnya, suatu ketika, aku menemui awan itu. Gengsi, dong, kalau aku berterus terang untuk meminta hujan. Karena aku pernah "mengusirnya" yang sebelumnya menyambarkan petir di hatiku. Aku mengajak dia mengobrol ke sana kemari. Aku bertanya apakah saat ini ia tak ada tugas untuk menurunkan hujan di tempat lain, dan ia mengaku bahwa ia sibuk ke tempat satu dan yang lain. Tiba-tiba, aku iseng bertanya apakah ada yang membayarnya jika dia telah menurunkan hujan di suatu tempat. Dia tertawa, kemudian menjawab, "aku sudah ditugaskan untuk menurunkan hujan". 

Setelah itu aku diam. Apakah aku harus memohon hujan padanya? 

Tiba-tiba, saat aku akan bilang untuk memohon hujan, dia mengatakan sesuatu yang membuat aku tersentak dan terharu, "kita buat perjanjian, ya?" 

"Perjanjian untuk apa?"
"Perjanjian tanggal untuk menurunkan hujan di tempatmu."

Aku belum memohon, wahai hujanku, belum!

Setelah memutuskan tanggal turunnya hujan, aku pulang, dengan pengharapan yang sangat. Entah mengapa, aku langsung percaya padanya, ia akan menurunkan hujan yang deras dan lama, tidak akan menyambarkan petir sekali pun. Dalam pengharapan itu, aku juga takut kecewa. Takut kalau dia tidak datang, takut kalau dia hanya menyambarkan petir seperti dulu.

Dan hari itu tiba, hari sang awan akan datang menurunkan hujan. Pengharapanku semakin besar. Aku berusaha keras menahannya agar tak kecewa. Tapi, aku sudah terlanjur percaya padanya.

Hujan yang sangat deras dan lama telah turun, pada akhirnya. Hatiku sudah tak lagi gersang. Bunga-bunga telah muncul dan mekar dengan banyak dan cepat. Ingin rasanya aku memeluk sang hujanku penghapus kemarau bertahun-tahun. Dia menuruni hujan seakan aku adalah pelanggan setia hujannya yang sudah berlanggan lama. Aku tak ragu untuk menceritakan semua keluh kesahku, dia pun begitu. Kami sudah menjadi teman.

Ku ucapkan terima kasih berkali-kali. Dan ku ucapkan maaf berkali-kali juga, karena telah menyita waktunya, meskipun dia yang menawariku untuk menghujani hatiku. Sebagai tanda terima kasihku yang banyak, kuberikan "hasil panen"ku padanya, kutunjukkan bahwa aku berhasil karenanya. Dia tersenyum lebar saat kuberi itu, Aku sangat terharu, dia senang karena hujan yang ia turunkan menghasilkan "hasil panen" yang bagus.

Lewat tulisan ini, ku ucapkan beribu terima kasih untukmu, sang hujan sehariku penghapus kemarau bertahun-tahun. Aku berharap, kamu tak mengecewakan aku setelah ini. Aku juga sedang berusaha untuk menurunkan hujanku sendiri, tanpa bantuanmu.


Sekali lagi, terima kasih, hujan sehariku penghapus kemarau bertahun-tahun! :)

Tuesday, December 20, 2016

My Sunshine After The Rain


Sedikit aneh memang. Biasanya setiap tanggal 20 Desember, aku selalu menuliskan apapun tentang 20 Desember enam tahun silam. Memang, di posting 20 Desember yang terakhir, aku menuliskan bahwa tulisan itu adalah part flashback yang terakhir. Jadi aku memang takkan menulis tentang enam tahun silam.

Tadi malam, saat pergantian hari dari 19 Desember ke 20 Desember, aku merasa aku ingat semua kejadian-kejadian yang aku alami. Namun emosi yang aku rasakan saat ingat ini: TIDAK ADA.

Jantungku tidak berdebar. Aku tak lagi berkeringat dingin. Aku tidak tahu, apakah aku harus senang atau sedih karena merasa seperti ini. Semalam, aku tidak bermimpi tentang seseorang di 20 Desember 2010, aku memimpikan yang lain. Aku memimpikan seseorang yang akan aku bahas di posting ini. Cerita dalam mimpi itu sama, kehilangan. Tapi bukan orang yang biasanya. Bukan.



The other night, dear, was I lay sleeping. I dreamt I held you in my arms. When I awoke, dear, I was mistaken. So, I hung my head, and I cried.


Seseorang yang ada di mimpiku tadi malam. Aku tak bisa bilang bahwa dia adalah orang "baru" yang menciptakan senyum di bibirku. Tapi dia keren. Aku menyebutnya sang hujan sehari penghapus kemarau bertahun-tahun, atau terkadang aku menyebutnya cahaya matahariku setelah hujan. Oh, ada lagi, barusan terlintas di pikiranku, pelangi yang muncul setelah hujan.

Dia benar-benar datang di waktu yang tepat, saat badai menerpaku bertahun-tahun, dia datang bagai cahaya matahari saat badai reda, membantuku untuk memunculkan pelangi dalam hatiku sendiri. Memang, dia menunjukkan bahwa senang dan sedih berasal dariku sendiri. Tetap saja, jika dia tidak ada, aku takkan jadi yang sekarang.

Aku teringat, pertemuan pertama, bahkan sebelum bertemu dengannya, entah mengapa aku sangat membencinya. Melihat wajahnya saja sudah malas. Aku tidak mengerti, seseorang yang tak pernah terbayangkan untuk mengenalnya, dia mengenalku, tahu semua tentangku datang dengan melalui proses yang sampai sekarang aku tak paham, menjadi salah satu yang aku bahas dalam percakapan sehari-hari.



Di saat aku sedang menikmati hari-hari bahagia karenanya, entah mengapa, di suatu hari, aku merasa sangat sedih karena pertemuan kita terasa sangat singkat. Aku benar-benar takut, setelah hari itu, aku takkan bertemu dengannya lagi. Jika pun bertemu, pasti takkan seperti sebelum-sebelumnya, situasinya akan berbeda. Mungkin kita tak lagi saling sapa dan tertawa bersama. 

Aku pernah menaruh harapan padanya, untuk selalu bisa bersikap baik denganku. Karena itulah, aku harus siap kecewa. Karena pengharapan sebagian besar akan mengecewakan.

Sebenarnya, aku sedikit heran. Dia tahu, aku menggelisahkan hal ini padanya. Tapi dia bilang, dia tak seperti itu, malah dia bilang aku sudah berpikiran negatif mengenai dirinya. Tak seharusnya aku seperti itu. Entah darimana rasa takut ini datang. Apakah aku telah takut kehilangan?

Untuk cahaya matahariku setelah hujan.
Untuk hujan sehariku setelah kemarau bertahun-tahun.

Unruk pelangiku setelah hujan.
Aku ucapkan beribu terima kasih, telah menjadi salah satu orang yang memberikan perubahan besar padaku. Yang telah memberikan aku penguat dalam bentuk apapun. Aku juga akan mengucapkan maaf. Maaf jika aku telah menyusahkanmu selama ini, telah menyita waktumu, belum bisa membalas budi baikmu.

Aku tak pernah berharap untuk kehilangan semuanya, Aku ingin melakukan apapun agar tak ada yang berubah. Tetap seperti ini. 

Wednesday, November 23, 2016

The Comfort Zone

Tak terasa tiga semester kuliah di psikologi hampir selesai ku lalui. Kuliah tak seperti sekolah, itu benar. Banyak hal baru yang ku temui di sana. Dari sekian banyak hal baru itu, ada satu yang paling mengganggu pikiranku sejak semester pertama, yaitu, go out from your comfort zone atau keluar dari zona nyamanmu.

Keluar dari zona nyaman? Bagaimana bisa? Bukankah suasana nyaman adalah situasi yang menyenangkan? Mengapa harus keluar? Banyak yang bilang, zona nyaman adalah zona yang paling berbahaya. Membuatku semakin tidak paham. Hal itu dikatakan berkali-kali, mungkin setiap rangkaian acara wajib dari universitas maupun fakultas semuanya berkata begitu. Ospek, acara pengabdian fakultas, hingga PPKM, semua pembimbing/trainer berkata begitu.

Sampai suatu ketika, sesuatu terjadi padaku. Aku sendiri juga tidak tahu, apa yang aku alami dan rasakan sebenarnya. Seseorang datang padaku (lebih tepatnya, aku yang datang), dia datang bersama (aku harap) penyelesaian atas apa yang aku alami. Jawabannya adalah: keluar dari zona nyamanmu.

Dari sekian banyak orang yang mengatakan hal yang sama padaku, entah kenapa aku merasa yang dikatakannya adalah yang paling benar dan bisa dipercaya. Padahal mereka dulu juga berkata begitu.

Sejak hari itu, aku berusaha semaksimal mungkin untuk keluar dari zona nyamanku. Ini sangat sulit. Tapi berbahaya jika terus ku pertahankan.

Dalam hati kecilku, terkadang semua itu bertentangan denganku. Ada satu titik saat aku merasa yang aku lakukan terasa menyiksaku dengan tidak menjadi diriku sendiri, dimana aku merasa, aku melakukannya bukan untuk diriku. Ada kalanya aku ingin menangis selama mungkin yang aku mau karena aku rasa ini tidak baik bagiku.

Tapi, aku sadar. Aku tidak sendiri. Orang-orang yang aku sayangi "ikut" membantuku untuk keluar dari sana. Aku sangat-sangat bersyukur bisa bertemu mereka. Aku harap mereka akan terus seperti ini, selalu ada untuk menarikku keluar dari sana. 


Because it's only the way, right?



Tuesday, April 19, 2016

It's Me. It's All About Me

Hai, aku  Cindy Permata. Panggil saja Cindy. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Aku punya seorang adik laki-laki.

Aku ini orang yang moody, kadang ceroboh, gampang tersinggung. Aku mudah simpati terhadap orang, gampang kasihan dengan orang, dan aku sering baper-an  alias bawa-bawa perasaan. Aku juga orang yang pemikir, segala sesuatu dan masalah selalu menjadi beban pikiranku

Sebagai orang yang suka baper, tentu saja aku punya banyak cerita dramatis, Salah satunya yaitu saat aku kelas 2 SMA. Ketika itu aku berpacaran dengan teman sekelasku. Semuanya baik-baik saja. Sampai pada akhirnya pacarku ketahuan selingkuh. Aku sangat sakit hati. Bahkan aku sampai terkena maag, padahal sebelumnya aku tak pernah terserang maag. Berat badanku pun sempat turun.

Gaya pengasuhan orang tuaku cenderung otoritatif, meskipun terkadang ayahku sedikit keras dan memaksakan peraturan karena ada trauma-trauma tertentu yang dialaminya yang tak bisa dijelaskan.

Sejak kelas 2 SMP, aku mulai punya keinginan, tapi waktu itu hanya keinginan. Keinginan ini muncul karena dulu aku tiba-tiba ingat suatu kejadian saat TK, yang sampai sekarang masih kuingat dengan jelas. Aku melihat sendiri seorang temanku menerima penyiksaan oleh seseorang. Aku ketakutan. Tapi aku yang masih kecil tak tahu apa yang harus kuperbuat dan aku pun hanya duduk terdiam sambil memendam rasa takut. Aku merasa jengkel, kenapa orang dewasa itu terlihat kejam dengan anak-anak. Sampai saat aku kelas 3 SMP, aku mulai sering mencari tahu tentang bidang yang menjadi keinginanku tersebut. Tentang apa yang harus aku lakukan di SMA untuk bisa setidaknya masuk kuliah ke fakultas tersebut. Keinginan itu adalah menjadi Psikolog.

Ya, sudah pasti saat SMA, kengototanku dengan Psikologi semakin menjadi-jadi. Saat jalur SNMPTN, aku mendaftar di prodi Psikologi di dua PTN. Hasilnya? Aku ditolak. Jujur, aku sedih banget sampe nangis. Pikirku ini kesempatanku satu-satunya untuk masuk di Psikologi PTN tersebut. Karena aku dari SMA IPA, berarti aku harus mengikuti tes SBMPTN Soshum. Saintek saja kesusahan , apalagi harus belsajar pelajaran Soshum.

Tapi sebelum UN, karena aku tahu diri bahwa SNMPTN adalah PHP alias pemberi harapan palsu, maka mendaftarlah aku ke PTS. Saat daftar PTS, cukup galau karena aku mencari PTS yang terdapat prodi Psikologi. Setelah survei di dalam dan luar kota dan atas rekomendasi dari guru BK, maka mendaftarlah aku ke Unika Soegijapranata.

Di sini masih harus galau lagi. Karena aku adalah muslim dan Unika adalah universitas dibawah yayasan Katolik. Keluarga mulai khawatir tentang ini dan itu. Jujur saja, aku sudah mulai sedikit jatuh hati dengan kampus ungu ini. Tapi setelah pertimbangan yang berbagai macam akhirnya aku mendaftar. Salah satu pertimbangannya karena saat itu jalur prestasi atau jalur tanpa tes masih dibuka. (more story click:  About My Dream (2))

Konflik id dan superego yang sering terjadi di dalam diriku adalah ketika aku akan responsi atau ujian. Aku sangat malas sekali membuka buku, tapi aku juga khawatir jika aku tidak belajar, aku tidak dapat mengerjakan test dengan baik.

Aku selalu menggunakan mekanisme pertahanan diri rasionalisasi, misalnya saat aku akan mengikuti UKM. Jujur saja, aku kurang minat pada UKM yang aku ikuti ini. Maka dari itu, setiap akan ada latihan aku selalu beralasan “sedang banyak tugas” atau “besok ada responsi”.

Aku ini orang yang tegar yang aku tampilkan sebagai personaku. Padahal shadowku, diriku yang sesungguhnya, banyak masalah yang menimpaku, banyak sedih yang kurasakan. Ketika aku di kampus bertemu dengan teman-teman, berkumpul dengan keluargaku, aku tampak selalu tertawa terbahak-bahak dan banyak senyum, untuk menutupi kesedihanku


Seperti yang sudah aku jelaskan di atas, aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Status urutan kelahiran sebagai anak sulung menjadikanku pribadi yang serius, lebih teratur, juga lebih ambisius meskipun sejak kuliah ini rasa ambisiusku semakin berkurang.


Itulah deskripsi tentang diriku dan bagaimana kisah hidupku. Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat. :)







NB:


Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Kepribadian. Udah lama pengen posting dengan format kayak gini, dan baru kesampaian. Hope you enjoy. Happy reading :)