Friday, December 18, 2015

A Letter to Your Heart: The Red Envelope

13 Agustus 2015

Sudah dua hari dua malam. Nama dan wajahmu berputar-putar di otakku. Apakah harus kata-kata romantis yang kutuliskan untuk kuberikan padamu? Tidak. Ini hanya tugas. 
Ada keinginan untuk kamu menyukai tugasku. Berarti harus romantis. Bagaimana kalau kamu tidak suka?

Kucukupkan saja. Aku tidak berani berpikir jauh. Tidak akan mungkin sejauh itu. Aku baru melihat wajahmu kemarin. Aku ini siapa? 

Entah apa yang kupikirkan, kutuliskan saja semua isi hatiku padamu. Aku ingin kau tahu aku juga salah satu dari mereka yang memperhatikanmu sejak hari itu. Aku memperhatikanmu dari semua sisi. Bagaimana aku bisa mengelak? Aku adalah penikmat senyum, dan senyummu hari itu adalah yang terindah. Aku telah mengagumimu dalam diam.

Aku tahu bahwa kau takkan menganggap serius tulisanku. Karena aku adalah salah satu dari mereka yang memberimu tulisan itu. Bagaimana kalau ternyata tulisanku adalah serius? Sayang sekali, tulisanku memang serius.

Hari ini kita telah berdinamika bersama. Sungguh melelahkan. Tapi aku senang bisa mengenalmu. Apakah setelah besok, kita masih bisa sering bertemu? Atau mungkin sekadar mengobrol? Kalau bisa dekat. Bisakah?


Wherever you do, you go, I'll be right here waiting for you.




With Love.

Monday, October 5, 2015

05 Oktober 2009: Terlupa, Dilupa.

Ketika kamu punya kenangan yang seumur hidupmu takkan kamu lupakan. Tapi ketika bertahun-tahun lamanya kamu mulai terlupa apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu. Kamu ingat kejadiannya, semua detailnya, tapi kamu lupa akan emosi yang terjadi pada waktu kejadian itu.

Apa itukah yang saat ini kualami? Mungkin.

Sudah enam tahun berlalu sejak kejadian itu. Aku masih merasa bahwa kejadian itu berpengaruh banyak dengan alur cerita hidupku. Memang benar. Seandainya kejadian itu takpernah terjadi, mungkin, aku takkan bisa menulis cerita-cerita yang penuh dinamika untuk kubagikan di sini, Mungkin, kisahku di putih-biru akan biasa-biasa saja. 

Sempat terlintas di pikiranku bahwa hanya aku yang menganggap semua ini penting. Kurasa benar. Ya, memang semua itu penting bagiku karena kejadian itu berpengaruh pada hidupku, bukan hidupmu. Berpengaruh pun mungkin hanya sebagian kecil dari bagian hidupmu. 

Sepertinya aku mulai melewati suatu masa, masa di mana aku akan lupa karena ada sesuatu yang dapat membuatku lebih bahagia daripada apa yang terjadi saat tiga tahun itu. 

Tapi, bukan berarti aku membencimu. Aku takkan melupakan semua jasamu padaku. Seperti yang pernah kukatakan, Semua orang yang pernah menjadi bagian dari hidupku adalah penting, termasuk kamu, dan semua peristiwa yang pernah kita alami bersama. Aku masih mengagumimu. Namun mungkin dengan intensitas yang berbeda. 

Hm, apa ini berarti aku akan benar-benar kehilanganmu? Tidak lagi like gonna lose you?

Aku tak yakin jika posting tahunan ini akan menjadi posting yang terakhir. Jujur, aku sebenarnya takut aku akan melupakan sama sekali dengan semua cerita yang pernah kita alami. Karena itu berarti, aku akan melupakan jasamu dan menjadi orang yang "sombong" terhadapmu. 




Semoga kamu (dan aku) masih tertarik dengan cerita ini tahun-tahun berikutnya. 
Selamat 5 Oktober yang keenam.






With Love,


Cindy Permata Putri



Related Posts:


Wednesday, August 19, 2015

About My Dream (2)

Hi guys! Kaifa halukum?


Apakah kamu punya mimpi? Of course, yes. 

Aku juga punya mimpi. 


Masih inget dulu waktu TK ditanya "apa cita-citamu?" kebanyakan dari kita menjawab dokter, polisi, tentara, pilot, dan profesi-profesi umum lainnya. Dulu aku menjawab dokter. Alasannya, aku suka hal-hal tentang kesehatan. Baca-baca di koran tentang artikel-artikel kesehatan, meski tidak tahu makna dari artikel-artikel itu. Alasan yang lain adalah alasan klasik, ingin menolong sesama.

Sampai masih SD, aku masih ingin menjadi dokter, tapi sejak masuk SMP, karena udah agak besar dan mulai bisa berpikir lebih jauh, aku menepis keinginan dan cita-cita itu. Aku mulai mengerti bahwa jadi dokter tak hanya sekedar tau stetoskop dan alat suntik, tapi memang harus benar-benar pandai, dan aku tidak benar-benar pandai, atau lebih tepatnya kurang pandai. Hahaha.

Kuliah di FK juga memerlukan banyak biaya. Aku mulai sadar bahwa kuliah tak bisa dibayar oleh lembaran daun.

Kelas 2 SMP, aku mulai punya keinginan baru, tapi waktu itu hanya keinginan. Keinginan ini muncul karena dulu aku tiba-tiba ingat suatu kejadian saat TK, yang sampai sekarang masih kuingat dengan jelas. Aku melihat sendiri seorang temanku menerima penyiksaan oleh seseorang. Aku ketakutan. Tapi aku yang masih kecil tak tahu apa yang harus kuperbuat dan aku pun hanya duduk terdiam sambil memendam rasa takut. Aku merasa jengkel, kenapa orang dewasa itu terlihat kejam dengan anak-anak. 

Sampai suatu ketika, aku melihat layar kaca dan melihat sosok yang kalian pasti tidak asing dengan beliau. He's Kak Seto. 

Kayaknya keren ya liat beliau, dapat bertindak tegas terhadap kekerasan anak. Apalagi saat itu lagi marak kasus kekerasan anak. I want to be like him.


Sampai saat aku kelas 3 SMP, aku mulai sering mencari tahu tentang bidang tersebut. Tentang apa yang harus aku lakukan di SMA untuk bisa setidaknya masuk kuliah ke fakultas tersebut. Yes, I want to be a psychologist.

Yah sudah pasti saat SMA, kengoyotanku dengan Psikologi semakin menjadi-jadi. Saat jalur SNMPTN, aku mendaftar di prodi Psikologi di dua PTN. Hasilnya? Aku ditolak. Tbh, aku sedih banget sampe nangis. Pikirku ini kesempatanku satu-satunya untuk masuk di Psikologi PTN tersebut. Karena aku dari SMA IPA, berarti aku harus mengikuti tes SBMPTN Soshum. Saintek aja entah, apalagi harus belajar pelajaran Soshum.

Tapi sebelum UN, karena aku tahu diri bahwa SNMPTN adalah PHP, maka mendaftarlah aku ke PTS. Pas daftar PTS, cukup galau karena aku mencari PTS yang terdapat prodi Psikologi. Setelah survei di dalam dan luar kota dan atas rekomendasi dari guru BK, maka mendaftarlah aku ke Unika Soegijapranata.

Di sini masih harus galau lagi. Karena aku adalah muslim dan Unika adalah universitas dibawah yayasan Katolik. Keluarga mulai khawatir tentang ini dan itu. Jujur aja, aku sudah mulai sedikit jatuh hati dengan kampus ungu ini. Tapi setelah pertimbangan yang berbagai macam akhirnya aku mendaftar. Salah satu pertimbangannya karena saat itu jalur prestasi atau jalur tanpa tes masih dibuka.

Sekitar sebulan kemudian setelah mendaftar PTS, aku masih ingin mencoba mendaftar PTN melalui jalur SBMPTN. Galau lagi. Karena Psikologi Saintek hanya beberapa PTN yang membuka, selebihnya Soshum. Dan karena aku tidak sanggup tes IPC, aku memilih prodi atas rekomendasi keluarga, Kesehatan Masyarakat di dua PTN, dan prodi Psikologi Saintek di satu PTN. Tbh, aku sedikit ragu dengan pilihan ini. Karena prodi Psikologi akan makin jauh kugenggam. 


Tapi apa yang terjadi di SBMPTN? Aku ditolak. Lagi.

Anehnya, aku malah girang. Itu artinya, aku berhasil masuk Fakultas Psikologi. AKU BERHASIL! 


Terkadang saat itu, aku sedikit merasa sedih, karena aku tidak bisa masuk ke PTN. Tapi, setiap kali aku merasa begitu, aku selalu berpikir bahwa aku sekarang bisa masuk Fakultas Psikologi, yang aku impikan sejak sekian lama. Mimpi itu semakin dekat. Bayangkan jika aku masuk FKM?

Sejak perkuliahan dimulai, aku juga tidak pernah berpikir untuk menyesali tentang PTN atau pun merasa sedih. Meskipun aku melihat foto atau update teman-teman yang berhasil diterima PTN, aku tidak merasa sedih lagi. Karena, ya, aku sudah jadi mahasiswa, kuliah sudah berjalan, ditambah lagi aku menemukan dunia yang aku impikan di sini. Tanpa sadar, aku sekarang lebih banyak tertawa dan bahagia.

Saat kuliah berlangsung, aku masih berpikir, sekarang aku belajar Psikologi Dasar, Psikologi Sosial, apakah semua ini mimpi?


Jangan ragu dengan mimpimu! Allah always knows the best for you and knows your need.




Syukran katsiran!




Cindy Permata Putri 






Saturday, June 13, 2015

The One of Best

   Tiga tahun lalu, suasananya juga seperti ini. Bukan, ini bukan malam perpisahan. Tapi tiga tahun lalu, ini malam perpisahan. Menurutku kita benar-benar berpisah.


Tiga tahun lalu.

    Rasanya berat meninggalkan tempat itu. Tunggu! Jangan pergi dulu. Ada yang belum aku sampaikan. Haruskah kita pergi sekarang? Bisakah kita mengucapkan salam perpisahan kemudian pergi?

      Tidak bisa! Jawabnya.

     Begitulah akhirnya. Aku pergi "tanpa pamit". Tiga tahun aku selalu bermimpi hal yang sama di setiap malam. Salam perpisahan yang tak tersampaikan. Berharap hari itu terulang lagi. Hanya untuk mengucapkan salam perpisahan untukmu, yang memberiku sejuta kenangan dan harapan.







   Ah, tidak. Ini sudah tahun 2015. Suasananya seperti ini lagi, dan mungkin ini yang terakhir. Masa sekolahku telah berakhir. Aku meninggalkannya dengan puas. Tak ada yang tertinggal. Salam perpisahanku tersampaikan. 

    Di dalamnya ada tawa yang tak dapat kuhentikan, kadang air mata yang terus mengalir, ada cinta yang menusuk hati. Namun, semua ini bagian hidup. Kini saatnya kita mengejar mimpi masing-masing. Ini bukan malam perpisahan. Sekali lagi

    Mungkin mimpiku masih sama. Aku berharap waktu itu akan kembali. Tapi aku ingin saat waktu itu kembali, aku mampu membuatmu tersenyum, bahagia.


See you on top!



With Love,


Cindy Permata Putri