Hi guys! Kaifa halukum?
Apakah kamu punya mimpi? Of course, yes.
Aku juga punya mimpi.
Masih inget dulu waktu TK ditanya "apa
cita-citamu?" kebanyakan dari kita menjawab dokter, polisi, tentara,
pilot, dan profesi-profesi umum lainnya. Dulu aku menjawab dokter. Alasannya,
aku suka hal-hal tentang kesehatan. Baca-baca di koran tentang artikel-artikel
kesehatan, meski tidak tahu makna dari artikel-artikel itu. Alasan yang lain
adalah alasan klasik, ingin menolong sesama.
Sampai masih SD, aku masih ingin menjadi dokter, tapi sejak
masuk SMP, karena udah agak besar dan mulai bisa berpikir lebih jauh, aku
menepis keinginan dan cita-cita itu. Aku mulai mengerti bahwa jadi dokter tak
hanya sekedar tau stetoskop dan alat suntik, tapi memang harus benar-benar
pandai, dan aku tidak benar-benar pandai, atau lebih tepatnya kurang pandai.
Hahaha.
Kuliah di FK juga memerlukan banyak biaya. Aku mulai sadar
bahwa kuliah tak bisa dibayar oleh lembaran daun.
Kelas 2 SMP, aku mulai punya keinginan baru, tapi waktu itu
hanya keinginan. Keinginan ini muncul karena dulu aku tiba-tiba ingat suatu
kejadian saat TK, yang sampai sekarang masih kuingat dengan jelas. Aku melihat
sendiri seorang temanku menerima penyiksaan oleh seseorang. Aku ketakutan. Tapi
aku yang masih kecil tak tahu apa yang harus kuperbuat dan aku pun hanya duduk
terdiam sambil memendam rasa takut. Aku merasa jengkel, kenapa orang dewasa itu
terlihat kejam dengan anak-anak.
Sampai suatu ketika, aku melihat layar kaca dan melihat
sosok yang kalian pasti tidak asing dengan beliau. He's Kak
Seto.
Kayaknya keren ya liat beliau, dapat bertindak tegas
terhadap kekerasan anak. Apalagi saat itu lagi marak kasus kekerasan
anak. I want to be like him.
Sampai saat aku kelas 3 SMP, aku mulai sering mencari tahu
tentang bidang tersebut. Tentang apa yang harus aku lakukan di SMA untuk bisa
setidaknya masuk kuliah ke fakultas tersebut. Yes, I want to be a
psychologist.
Yah sudah pasti saat SMA, kengoyotanku dengan
Psikologi semakin menjadi-jadi. Saat jalur SNMPTN, aku mendaftar di prodi
Psikologi di dua PTN. Hasilnya? Aku ditolak. Tbh, aku sedih banget sampe
nangis. Pikirku ini kesempatanku satu-satunya untuk masuk di Psikologi PTN
tersebut. Karena aku dari SMA IPA, berarti aku harus mengikuti tes SBMPTN
Soshum. Saintek aja entah, apalagi harus belajar pelajaran Soshum.
Tapi sebelum UN, karena aku tahu diri bahwa SNMPTN adalah
PHP, maka mendaftarlah aku ke PTS. Pas daftar PTS, cukup galau karena aku
mencari PTS yang terdapat prodi Psikologi. Setelah survei di dalam dan luar
kota dan atas rekomendasi dari guru BK, maka mendaftarlah aku ke Unika
Soegijapranata.
Di sini masih harus galau lagi. Karena aku adalah muslim dan
Unika adalah universitas dibawah yayasan Katolik. Keluarga mulai khawatir
tentang ini dan itu. Jujur aja, aku sudah mulai sedikit jatuh hati dengan
kampus ungu ini. Tapi setelah pertimbangan yang berbagai macam akhirnya aku
mendaftar. Salah satu pertimbangannya karena saat itu jalur prestasi atau jalur
tanpa tes masih dibuka.
Sekitar sebulan kemudian setelah mendaftar PTS, aku masih
ingin mencoba mendaftar PTN melalui jalur SBMPTN. Galau lagi. Karena Psikologi
Saintek hanya beberapa PTN yang membuka, selebihnya Soshum. Dan karena aku
tidak sanggup tes IPC, aku memilih prodi atas rekomendasi keluarga, Kesehatan
Masyarakat di dua PTN, dan prodi Psikologi Saintek di satu PTN. Tbh, aku
sedikit ragu dengan pilihan ini. Karena prodi Psikologi akan makin jauh
kugenggam.
Tapi apa yang terjadi di SBMPTN? Aku ditolak. Lagi.
Anehnya, aku malah girang. Itu artinya, aku berhasil masuk
Fakultas Psikologi. AKU BERHASIL!
Terkadang saat itu, aku sedikit merasa sedih, karena aku
tidak bisa masuk ke PTN. Tapi, setiap kali aku merasa begitu, aku selalu
berpikir bahwa aku sekarang bisa masuk Fakultas Psikologi, yang aku impikan
sejak sekian lama. Mimpi itu semakin dekat. Bayangkan jika aku masuk FKM?
Sejak perkuliahan dimulai, aku juga tidak pernah berpikir
untuk menyesali tentang PTN atau pun merasa sedih. Meskipun aku melihat foto
atau update teman-teman yang berhasil diterima PTN, aku tidak merasa
sedih lagi. Karena, ya, aku sudah jadi mahasiswa, kuliah sudah berjalan,
ditambah lagi aku menemukan dunia yang aku impikan di sini. Tanpa sadar, aku
sekarang lebih banyak tertawa dan bahagia.
Saat kuliah berlangsung, aku masih berpikir, sekarang aku
belajar Psikologi Dasar, Psikologi Sosial, apakah semua ini mimpi?
Jangan ragu dengan mimpimu! Allah always knows the best
for you and knows your need.
Syukran katsiran!
Cindy Permata Putri
No comments:
Post a Comment