Wednesday, August 19, 2015

About My Dream (2)

Hi guys! Kaifa halukum?


Apakah kamu punya mimpi? Of course, yes. 

Aku juga punya mimpi. 


Masih inget dulu waktu TK ditanya "apa cita-citamu?" kebanyakan dari kita menjawab dokter, polisi, tentara, pilot, dan profesi-profesi umum lainnya. Dulu aku menjawab dokter. Alasannya, aku suka hal-hal tentang kesehatan. Baca-baca di koran tentang artikel-artikel kesehatan, meski tidak tahu makna dari artikel-artikel itu. Alasan yang lain adalah alasan klasik, ingin menolong sesama.

Sampai masih SD, aku masih ingin menjadi dokter, tapi sejak masuk SMP, karena udah agak besar dan mulai bisa berpikir lebih jauh, aku menepis keinginan dan cita-cita itu. Aku mulai mengerti bahwa jadi dokter tak hanya sekedar tau stetoskop dan alat suntik, tapi memang harus benar-benar pandai, dan aku tidak benar-benar pandai, atau lebih tepatnya kurang pandai. Hahaha.

Kuliah di FK juga memerlukan banyak biaya. Aku mulai sadar bahwa kuliah tak bisa dibayar oleh lembaran daun.

Kelas 2 SMP, aku mulai punya keinginan baru, tapi waktu itu hanya keinginan. Keinginan ini muncul karena dulu aku tiba-tiba ingat suatu kejadian saat TK, yang sampai sekarang masih kuingat dengan jelas. Aku melihat sendiri seorang temanku menerima penyiksaan oleh seseorang. Aku ketakutan. Tapi aku yang masih kecil tak tahu apa yang harus kuperbuat dan aku pun hanya duduk terdiam sambil memendam rasa takut. Aku merasa jengkel, kenapa orang dewasa itu terlihat kejam dengan anak-anak. 

Sampai suatu ketika, aku melihat layar kaca dan melihat sosok yang kalian pasti tidak asing dengan beliau. He's Kak Seto. 

Kayaknya keren ya liat beliau, dapat bertindak tegas terhadap kekerasan anak. Apalagi saat itu lagi marak kasus kekerasan anak. I want to be like him.


Sampai saat aku kelas 3 SMP, aku mulai sering mencari tahu tentang bidang tersebut. Tentang apa yang harus aku lakukan di SMA untuk bisa setidaknya masuk kuliah ke fakultas tersebut. Yes, I want to be a psychologist.

Yah sudah pasti saat SMA, kengoyotanku dengan Psikologi semakin menjadi-jadi. Saat jalur SNMPTN, aku mendaftar di prodi Psikologi di dua PTN. Hasilnya? Aku ditolak. Tbh, aku sedih banget sampe nangis. Pikirku ini kesempatanku satu-satunya untuk masuk di Psikologi PTN tersebut. Karena aku dari SMA IPA, berarti aku harus mengikuti tes SBMPTN Soshum. Saintek aja entah, apalagi harus belajar pelajaran Soshum.

Tapi sebelum UN, karena aku tahu diri bahwa SNMPTN adalah PHP, maka mendaftarlah aku ke PTS. Pas daftar PTS, cukup galau karena aku mencari PTS yang terdapat prodi Psikologi. Setelah survei di dalam dan luar kota dan atas rekomendasi dari guru BK, maka mendaftarlah aku ke Unika Soegijapranata.

Di sini masih harus galau lagi. Karena aku adalah muslim dan Unika adalah universitas dibawah yayasan Katolik. Keluarga mulai khawatir tentang ini dan itu. Jujur aja, aku sudah mulai sedikit jatuh hati dengan kampus ungu ini. Tapi setelah pertimbangan yang berbagai macam akhirnya aku mendaftar. Salah satu pertimbangannya karena saat itu jalur prestasi atau jalur tanpa tes masih dibuka.

Sekitar sebulan kemudian setelah mendaftar PTS, aku masih ingin mencoba mendaftar PTN melalui jalur SBMPTN. Galau lagi. Karena Psikologi Saintek hanya beberapa PTN yang membuka, selebihnya Soshum. Dan karena aku tidak sanggup tes IPC, aku memilih prodi atas rekomendasi keluarga, Kesehatan Masyarakat di dua PTN, dan prodi Psikologi Saintek di satu PTN. Tbh, aku sedikit ragu dengan pilihan ini. Karena prodi Psikologi akan makin jauh kugenggam. 


Tapi apa yang terjadi di SBMPTN? Aku ditolak. Lagi.

Anehnya, aku malah girang. Itu artinya, aku berhasil masuk Fakultas Psikologi. AKU BERHASIL! 


Terkadang saat itu, aku sedikit merasa sedih, karena aku tidak bisa masuk ke PTN. Tapi, setiap kali aku merasa begitu, aku selalu berpikir bahwa aku sekarang bisa masuk Fakultas Psikologi, yang aku impikan sejak sekian lama. Mimpi itu semakin dekat. Bayangkan jika aku masuk FKM?

Sejak perkuliahan dimulai, aku juga tidak pernah berpikir untuk menyesali tentang PTN atau pun merasa sedih. Meskipun aku melihat foto atau update teman-teman yang berhasil diterima PTN, aku tidak merasa sedih lagi. Karena, ya, aku sudah jadi mahasiswa, kuliah sudah berjalan, ditambah lagi aku menemukan dunia yang aku impikan di sini. Tanpa sadar, aku sekarang lebih banyak tertawa dan bahagia.

Saat kuliah berlangsung, aku masih berpikir, sekarang aku belajar Psikologi Dasar, Psikologi Sosial, apakah semua ini mimpi?


Jangan ragu dengan mimpimu! Allah always knows the best for you and knows your need.




Syukran katsiran!




Cindy Permata Putri 






No comments:

Post a Comment