Wednesday, July 2, 2014

Bukankah Kita Harus menjadi Apa Adanya?

Beberapa hari yang lalu, keluarga saya mengajak untuk menunaikan ibadah salat Tarawih di salah satu masjid yang jauh dari rumah. Masjid itu terletak didekat SMP saya dulu. Entah mengapa saya merasa senang. Saya seperti "pulang ke rumah" setelah merantau jauh. Ada rasa rindu yang sangat dalam ketika itu.
Namun, entah mengapa ada rasa takut yang menjadi-jadi. Takut kembali mengulang masa lalu. Takut terlarut lagi dengan masa lalu. Saya tidak mau!
Kemudian, rasa takut saya berubah menjadi bahagia bercampur haru ketika saya bertemu dengan teman seangkatan saya ketika SMP. Kami menceritakan masa-masa kami ketika SMP dulu. Kami tertawa bersama seperti 2 tahun yang lalu, dan ada rasa bahagia yang sudah lama tak saya rasakan selama 2 tahun.
Ketika perjalanan pulang, saya menjadi berpikir dan bertanya, ke mana saja saya selama ini? Saya merasa tidak menjadi diri saya sendiri selama ini. Tidak tertawa-tawa dan menangis-nangis seperti apa adanya saya.
Apa mungkin saya masih belum siap menghadapi hal baru?
Apa saya bisa menjadi apa adanya saya dan menghadapi hal yang baru?

Wednesday, April 16, 2014

Atas Nama Keadaan

Bertahun-tahun kau lakukan hal yang sama, selalu, hampir setiap saat. Tapi bertahun-tahun lalu aku tak pernah mempersoalkan yang kau lakukan. Baru beberapa bulan belakangan aku mulai berpikir, apakah aku harus selalu mengalah dan jadi yang kau persalahkan? Apakah semua ini nantinya aku menjadi lemah karena terlalu baik dalam menerima segala bentuk keegoisan dan keserakahan? Kurasa iya, kurasa tidak.
Selama ini, aku selalu memaklumi keadaan, ya, atas nama maklum.
"Maklumlah dia kan...."
"Maklumlah dia sedang..."
Apakah aku harus selalu tunduk, menoleransi atas itu semua?
Apakah kamu tak pernah berpikir bahwa aku masih punya hati, memang enak harus rela disalahkan (padahal aku takpernah melakukan yang kau tuduhkan)? Sekali lagi, atas nama maklum, begitu?
Atas nama keadaan yang membuat aku harus maklum itulah aku harus bisa menyikapi kewenanganmu. Tapi, hei, bisakah kau menyikapi itu dengan bijak? Bisakah kau tak memanfaatkan keadaanmu?
Aku bukannya lelah untuk mengalah, aku hanya minta dihargai. Aku juga ingin kaudengar. Tak hanya kau lihat, karena kau selalu mengatakan yang kaulihat.

Friday, December 20, 2013

#Flashback: Pesan Singkat di Kota Apel (Part III)

>> Posting sebelumnya Part I 
                                   Part II

Masih teringat jelas, pesan-pesan singkat yang pernah membangkitkan aku setelah terjatuh pada lubang gelap. Pesan singkatmu telah membantuku mengambil kembali senyumku yang telah dirampas Kota Apel malam itu.

Namun aku merasa kini berbeda, pesan singkatmu malah justru berusaha merebut kembali senyumku. Pesan singkatmu dan kamu sebagai pengirimnya mungkin kini malah lebih suka membuat air mataku menetes dan merobek hatiku sesukanya. Apa yang ada dalam pikiranmu saat ini? Aku benar-benar tidak paham jalan pikiranmu.

Aku mencoba lebih dewasa. Memang benar aku kecewa, tapi aku berusaha lebih tenang. Mungkin tak seharusnya aku lebih jauh berpikir tentang kamu. Aku (mungkin) sebenarnya telah mengetahui dari awal. Namun aku mencoba berpikir sepositif mungkin, bahwa pesan singkatmu adalah tulus, tidak hanya ingin menyenangkan hatiku saja. Tapi ternyata itu memang benar.

Terima kasih karena pesan singkatmu pernah mewarnai hidupku dan menjadi bagian hidupku. Kamu tahu? Semua yang pernah menjadi bagian hidupku adalah penting. Pesan singkatmu telah membantuku menyembuhkan sakit psikisku meski hanya sekedar kata-kata. Aku menghargai niat baikmu untuk menghiburku dan menenangkanku.

Sekarang, kamu tak usah lagi mencariku, mencari tahu bagaimana keadaanku. Aku baik di sini. Uruslah urusanmu yang lebih penting, Karena aku tidak lagi penting bagimu. Aku beban untukmu. Aku mengerti. Tidak usah sok merindukanku. Sudah aku bilang, aku akan baik-baik saja

Aku sudah benar-benar lelah. Aku tidak ingin mengingat semuanya kembali. Aku memang akan berusaha melupakan sakitnya, namun aku berusaha mengambil hikmah dan pelajaran dibalik semua ini

Mungkin ini posting 20-21 Desember yang terakhir. Aku akan tetap merindukan semuanya. Aku takkan secepat itu untuk melupakan peristiwa besar. Seiring berjalannya waktu, aku pasti bisa melewatinya. Aku yakin.


Sekali lagi terima kasih. :)




With Love,
Cindy Permata Putri. :)

Tuesday, November 26, 2013

#Flashback: Duapuluhenam November Duaribusepuluh (Part 2)

Hai, apa kabar kamu? 

Aku harap, kamu baik-baik saja.
Aku harap, kamu dalam keadaan sehat

3 tahun yang lalu, aku tidak mengerti apa yang terjadi. Pagi itu, aku melihatmu, nyata dan jelas. Tapi, mengapa kamu menghilang. Aku seperti tak mengerti perasaanku sendiri. Aku kehilanganmu!

Aku menangis sejadi-jadinya. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Kupanggil namamu berkali-kali, tidak ada tanda-tanda keberadaanmu. Kamu di mana?
Namun mengapa dalam hati aku masih bertanya. Kamu ke mana?

"Aku takkan hilang, aku di sini, di hatimu"

Aku tunggu kabar darimu. Aku sangat ingin bertemu denganmu. 





With Love,
Cindy Permata Putri

Saturday, October 5, 2013

05 Oktober 2009 (+ Happy Birthday Song by Summer Twins)

   5 Oktober! Sebenernya tanggal 5 oktober itu ada apaan sih? Bosen gak bosen, buka lagi link ini.

Kejadian itu sebenernya udah lama, 4 tahun yang lalu. Tapi seakan-akan selalu ada jalan agar aku tak akan lupa kejadian itu. Disaat semuanya telah hilang lenyap dari hati dan pikiran (Sebenernya gak lenyap, itu bohong), sosokmu kembali lagi menemuiku. Kuperhatikan wajahnya, mengapa kamu sangat berbeda dari 4 tahun yang lalu, saat pertama kali kita bertemu? Kuperhatikan cara dia bicara, sudah bisa dikenali, itu memang kamu. Kadang kata-katanya yang membuatku galau itu selalu mengena di hati. Kuperhatikan sekali lagi wajahnya, ini bukan kamu!
Kamu masih di tempat yang sama, tempat di mana kita pertama kali bertemu. Tapi di saat yang sama, aku berada di tempat yang berbeda, tempat yang (tak) mungkin kau kunjungi. Kini aku mulai yakin, ini bukan dirimu. Lantas, siapa yang kini sedang dihadapanku?
Bukan, ini bukan kamu, ini adalah cerminan masa lalu dan kinimu, yang (mungkin) sengaja Tuhan kirimkan padaku agar aku tak lupa pada sosokmu yang pernah menjadi inspirasi bagiku.
Untuk cerminan masa lalumu, kuharap dia selalu mengerti tentang aku, seperti kamu yang selalu mengerti segala baik dan burukku.
Selamat tanggal 5 Oktober :)
NB: Hai, tunggu, aku punya lagu ulang tahun buat semua orang-orang spesialku yang merayakan ulang tahunnya di hari spesialku ini. Happy birthday!




Tuesday, July 9, 2013

Late Post: Ramadhan Tahun Ini.

Hai semua! Wew udah hampir 4 bulan vakum dari isi-mengisi blog. Baru sempet buka nih. Hehe. Selamat datang lagi ya. Ini posting pertama dengan alamat blog yang baru lho. Jadi ya selamat datang lagi hehe. 

Ngomong-ngomong, ini udah masuk bulan Ramadhan lho. Tahun ini, mulai puasanya beda-beda. Ada yang besok, ada yang hari ini, kalo aku sih hari ini.  Cepet banget udah bulan Ramadhan lagi. Perasaan baru kemaren masuk SMA (masuk SMA tepatan Ramadhan tahun lalu), eh udah naik kelas aja (yang tepatan sama puasa lagi). Padahal sebenernya ya sama aja, nggak ada yang nyepetin atau ngelambatin waktunya. Dan itu artinya, ini adalah tahun kedua bulan Ramadhan tanpa... pesantren. Enggak, jangan khawatir, aku nggak bakal flashback dengan nyeritain satu-satu dari Ramadhan 1430 H (2009) sampe Ramadhan 1432 H (2011). 

Bentar dulu, sebenernya nulis posting ini, aku gak tau tujuan mana yang mau dibahas. Judulnya sih Ramadhan Tahun Ini. Tapi entahlah aku bingung mau bahas apa. Aku juga gak tau kenapa tiba-tiba pengen nulis ini. 

Yaudah deh selamat menunaikan ibadah puasa aja bagi yang menjalankan. *ngok*

NB: Yang baca ini, gak usah geer. Cuma nulis doang lho. Gak salah kan? ;)




Love,


Cindy Permata Putri



Monday, March 25, 2013

A Letter to (You and) Your Heart.




From        : My Heart
To             : You and Your heart

Hai, sudah lama ya aku tidak berjumpa dan memberi kabar untukmu.  Walaupun kamu tidak (mau) ingat denganku, aku akan selalu ingat kamu  di manapun dan kapanpun.

Mungkin saat membaca surat ini,  kamu akan menertawakan surat ini bersama teman-temanmu. Kamu mungkin anggap surat yang aku tulis tidaklah penting bagimu.  Tapi kamu tahu? Justru tertwaanmu yang mengejek itu adalah salah satu bagian yang kurindukan bagimu. Aku harusnya mengerti, betapa bodohnya aku menulis surat ini untukmu.  Dan aku tambah terlihat bodoh jika aku merindukanmu dan mempedulikanmu. Tapi aku tak peduli. Aku memang benar-benar rindu kamu! Sesuatu yang dipaksakan itu memang tidak baik, maka, aku tidak memaksamu untuk mengingatku, merinduku, apalagi kembali seperti kamu yang dulu. Aku bukannya sok tahu tentang kamu, tapi aku tahu, hatimu masih menyimpan sisa-sisa kenangan itu. Jauh dibalik ini, kamu itu masih sama kayak dulu. Aku tahu yang kamu rasakan.

Maaf jika aku memaksamu selama ini. Aku sekarang mengerti. Semoga sekarang kamu mengerti juga.




Syukran,
With Love.


posting sebelumnya  A Letter to Your Heart